Legenda Rawa Pening, Ada Naga Penunggu Danau di Semarang?

Legenda Rawa Pening, Ada Naga Penunggu Danau di Semarang?

Legenda Rawa Pening hingga sekarang masih diceritakan secara turun temurun.-ist/jambi-independent.co.id-dutawisata.co.id

Namun, cerita ini tidak berakhir di situ. Ada sebuah desa bernama Pathok yang dipenuhi oleh penduduk yang angkuh dan sombong.

Saat desa ini merayakan hasil panen dengan pesta besar, mereka menangkap Baru Klinthing dan memotong-motongnya untuk dijadikan hidangan.

BACA JUGA:Ternyata! Inilah Asal Usul Bantal Guling di Indonesia, Mengungkap Jejak Sejarah yang Menarik

BACA JUGA:5 Shio yang Diramal akan Mudah Melewati Kesulitan dalam Hidup

Tidak hanya itu, seorang anak laki-laki yang berwujud lusuh dan penuh luka datang ke pesta tersebut, tetapi ia hanya diterima dengan pengusiran dan ejekan.

Baru Klinthing yang telah merasakan perlakuan kasar ini memutuskan untuk mengajarkan pelajaran kepada penduduk Pathok.

Dalam sebuah tindakan ajaib, ia mengeluarkan suara gemuruh dan mengubah air yang menyembur dari tanah menjadi banjir besar yang menghancurkan desa Pathok.

Akibat dari tindakan angkuh penduduk, desa tersebut berubah menjadi Rawa Pening yang kita kenal hari ini.

BACA JUGA:Operasi Jaran Siginjai 2023, Tim Resmob Ditreskrimum Polda Jambi Amankan 3 Diduga Pencuri Motor

BACA JUGA:Sang Wartawan Ini, Kini Jadi Ketua Bawaslu Merangin Periode 2023-2028

Dalam kehancuran desa, Baru Klinthing dan Nyi Latung, seorang janda tua yang baik hati, selamat dan menjadi penjaga Rawa Pening.

Kisah ini memberikan pesan moral yang dalam: pentingnya rendah hati, kerendahan hati, dan saling tolong-menolong dalam menjalin harmoni dengan alam dan sesama manusia.

Legenda Baru Klinthing dan terbentuknya Rawa Pening mengajarkan kita bahwa sikap sombong dan meremehkan orang lain hanya akan membawa kehancuran, sementara sikap rendah hati dan tolong-menolong akan membawa kebaikan dan keharmonisan. *

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: