BACA JUGA:Status Tersangka Nadiem Tak Berubah, Keluarga Tunjukkan Kekecewaan
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) saat itu, Didiek Hartantyo, menjelaskan bahwa pinjaman sebesar 542,7 juta dolar AS dari CDB terbagi dua, 325,6 juta dolar AS dalam denominasi dolar dengan bunga 3,2 persen, dan 217 juta dolar AS dalam mata uang yuan (RMB) dengan bunga 3,1 persen, keduanya berjangka waktu 45 tahun.
Dana pinjaman tersebut digunakan untuk menutup porsi cost overrun konsorsium Indonesia sebesar 75 persen, sedangkan sisanya dipenuhi melalui penyertaan modal negara (PMN) yang bersumber dari APBN.