Pemanfaatan Software Capcut dalam Menganalisis Frekuensi Talempong melalui Efek Audio-Visual untuk Keterampila
Analisis frekuensi Talempong dengan Capcut.-ist/jambi-independent.co.id-
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Sumatera Barat memiliki kekayaan budaya etnosains yang sangat beragam, salah satunya tercermin dalam instrumen musik tradisional Talempong yang menggunakan prinsip fisika gelombang bunyi. Pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran fisika untuk menciptakan kebermaknaan belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Melalui filosofi Alam Takambang Jadi Guru, setiap jengkal budaya Minangkabau dapat menjadi laboratorium nyata bagi pemahaman konsep sains yang autentik. Keterkaitan antara nilai budaya dan sains ini diharapkan dapat memperkuat identitas diri sekaligus pemahaman intelektual peserta didik secara simultan.
Selama ini, pembelajaran fisika sering kali dianggap sebagai subjek yang asing karena contoh-contoh fenomena yang diberikan jauh dari konteks budaya lokal. Namun, potensi Talempong sebagai media belajar bunyi masih jarang dieksplorasi secara mendalam di dalam ruang kelas [1].
Hal ini menyebabkan siswa kurang mengapresiasi nilai saintifik yang terkandung dalam warisan nenek moyang mereka sendiri. Maka dari itu, pengaitan etnosains dalam kurikulum fisika merupakan langkah strategis untuk meningkatkan relevansi pendidikan bagi siswa di daerah.
Pembelajaran materi gelombang bunyi di sekolah sering kali terjebak pada pendekatan teoretis yang sangat abstrak sehingga sulit dipahami secara intuitif oleh siswa. Kondisi nyata saat ini menunjukkan bahwa siswa sering kali hanya menghafal persamaan frekuensi tanpa benar-benar memahami bagaimana karakteristik fisik suatu benda memengaruhi bunyi yang dihasilkan [2].
Fenomena bunyi pada alat musik tradisional seperti Talempong memiliki durasi getaran yang sangat cepat sehingga sulit diamati tanpa bantuan alat visualisasi yang memadai [3].
Tanpa adanya keterkaitan antara teori dan fakta lapangan, motivasi belajar siswa terhadap fisika cenderung menurun karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Hal ini diperparah dengan kurangnya eksplorasi kearifan lokal dalam buku teks yang selama ini digunakan sebagai sumber belajar utama.
Keterbatasan sarana laboratorium di banyak sekolah menjadi kendala utama dalam menghadirkan praktikum yang presisi untuk menganalisis variabel frekuensi.
Permasalahan krusial muncul ketika alat ukur manual seperti stopwatch atau indra pendengaran manusia tidak mampu menangkap detail perubahan bunyi pada objek yang bergetar cepat. Pengamatan manual sering kali menghasilkan data yang tidak valid akibat tingginya tingkat kesalahan manusia (human error) dalam proses pengambilan data empiris [4].
Selain itu, harga perangkat laboratorium digital yang mampu menganalisis spektrum bunyi biasanya sangat mahal dan sulit dioperasikan oleh siswa maupun guru di sekolah. Akibatnya, kegiatan praktikum sering kali ditiadakan dan diganti dengan metode ceramah yang semakin menjauhkan siswa dari keterampilan proses sains.
Di sisi lain, penggunaan gawai atau smartphone di kalangan siswa masih didominasi oleh aktivitas konsumsi media hiburan daripada sebagai alat bantu belajar yang produktif. Siswa mungkin sangat mahir menggunakan aplikasi seperti CapCut untuk keperluan sosial media, namun mereka belum menyadari potensi besar fitur di dalamnya untuk membedah fenomena fisis.
Belum banyak kajian yang secara spesifik mempromosikan bagaimana penggabungan efek audio dan visual dapat memperjelas konsep frekuensi pada instrumen etnosains. Kurangnya panduan praktikum digital yang memanfaatkan teknologi seluler membuat potensi sensor dan fitur pengolah video pada ponsel menjadi sia-sia.
Jadi, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan media yang mampu mengubah perspektif siswa dalam memanfaatkan teknologi seluler sebagai sarana observasi ilmiah yang presisi.
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hambatan visualisasi dan keterbatasan alat ukur pada materi gelombang bunyi adalah pemanfaatan software CapCut sebagai instrumen analisis frekuensi berbasis etnosains. Transformasi penggunaan gawai dari alat hiburan menjadi laboratorium seluler yang mampu memvisualisasikan data audio-visual secara presisi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



