b9

Dampak Perang AS - Iran Bagi Ekonomi Indonesia

Dampak Perang AS - Iran Bagi Ekonomi Indonesia

Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran hari ini 28 Februari 2026 menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

"Konflik ini berpotensi memicu tiga tekanan sekaligus bagi Indonesia, krisis energi, tekanan fiskal, dan gejolak moneter," kata dia, Sabtu 28 Februari 2026.

Namun tambahnya, dengan cadangan devisa yang relatif kuat dan respons kebijakan yang cepat, Indonesia masih punya ruang untuk mencegah resesi yang lebih dalam.

Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent Crude hingga 18 persen ke level US$79 per barel disebutnya baru tahap awal dari potensi gejolak yang lebih besar.

BACA JUGA:Trump Umumkan Operasi Militer Besar-Besaran ke Iran, Rudal dan Angkatan Laut Jadi Target

“Jika konflik meluas dan Selat Hormuz terganggu, harga bisa menembus US$130 sampai US$150 per barel. Itu bukan sekadar angka, tapi alarm keras bagi negara pengimpor minyak bersih seperti Indonesia,” ujarnya.

Menurut dia, ketergantungan impor minyak Indonesia yang telah mencapai sekitar 50 persen membuat APBN sangat rentan.

Kenaikan harga minyak otomatis memperbesar beban subsidi BBM, LPG, dan listrik hingga triliunan rupiah.

Tekanan ini berpotensi memperlebar defisit fiskal dan memaksa pemerintah menempuh opsi tidak populer seperti penyesuaian harga energi domestik.

BACA JUGA:Ayatollah Ali Khamenei Dikabarkan Tewas dalam Serangan Udara, Iran Umumkan Berkabung Nasional

“Kalau harga energi dinaikkan, inflasi bisa menembus 5 persen. Kalau tidak dinaikkan, defisit melebar. Pemerintah berada dalam dilema fiskal,” tegasnya.

Di sisi moneter, Noviardi melihat tekanan terhadap rupiah hampir tak terhindarkan.

Arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven seperti dolar AS dan emas berisiko menekan nilai tukar dan pasar keuangan domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar obligasi pemerintah bisa terkoreksi tajam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait