b9

Dampak Perang AS - Iran Bagi Ekonomi Indonesia

Dampak Perang AS - Iran Bagi Ekonomi Indonesia

Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-

BACA JUGA:Harga BBM Pertamina Maret 2026 Naik! Dexlite Rp14.200, Cek Daftar Lengkapnya di Sini

Ia memprediksi Bank Indonesia akan menghadapi pilihan sulit antara menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi cadangan devisa atau menaikkan suku bunga 7-day reverse repo rate untuk meredam volatilitas.

“Koordinasi BI dan Kementerian Keuangan harus solid. Komunikasi kebijakan yang kredibel penting untuk mencegah panic selling,” ujarnya.

Dampak rambatan juga dinilai akan terasa pada sektor riil. Kenaikan biaya energi dan logistik meningkatkan harga impor pangan dan bahan baku industri.

Daya beli masyarakat bisa tergerus, sementara manufaktur menghadapi tekanan margin akibat kenaikan ongkos produksi.

BACA JUGA:Malam-Malam Digerebek! 12 Pelaku PETI di Batang Hari Diciduk, Emas 166 Gram dan Uang Rp65 Juta Disita

Sementara itu, Noviardi mencatat ekonomi Iran sendiri mengalami kehancuran berat dengan inflasi di atas 40 persen, depresiasi rial mendekati 95 persen, serta hilangnya pendapatan minyak ratusan miliar dolar akibat sanksi dan kerusakan infrastruktur.

Di pihak lain, Amerika Serikat juga menghadapi konsekuensi fiskal besar dengan beban perang yang berpotensi menambah utang nasionalnya yang telah melampaui US$35 triliun.

Untuk meredam risiko, Noviardi mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi sumber energi, tidak hanya bergantung pada pasokan Timur Tengah, tetapi juga membuka kontrak jangka panjang dengan negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Australia.

Selain itu, penguatan cadangan devisa di atas US$150 miliar serta pemberian stimulus yang lebih terarah seperti bantuan langsung tunai energi bagi kelompok rentan dinilai menjadi langkah realistis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait