Jurnalisme adalah Terapi yang Dibayar
Ilustrasi. Seorang jurnalis harus mampu membaca situasi, menjaga jarak, dan menahan diri.-ist/jambi-independent.co.id-
Terapi yang dibayar
Menyebut jurnalisme sebagai terapi tidak berarti menganggapnya obat mujarab. Terapi bekerja dengan batas, durasi, dan kesadaran akan risiko.
BACA JUGA:Penjualan Mobil LCGC Jeblok 30%, Menperin Angkat Bicara, Astra Ungkap Realita Pasar
Penting untuk berhenti sejenak dari romantisasi bahwa kelelahan adalah tanda pengabdian, atau bahwa luka batin adalah prasyarat profesionalisme. Jurnalisme tidak menuntut penderitaan; ia menuntut ketepatan.
Upah dan honorarium memang menandai relasi kerja yang sah, namun yang lebih menentukan adalah kompensasi simbolik: kesempatan untuk terus mempertanyakan, memperbaiki penilaian, dan menjaga integritas proses.
Di luar fungsi administratif, identitas penulis juga kerap bekerja sebagai penanda kultural.
Bagi sebagian jurnalis, nama—termasuk nama pena—bukan sekadar soal sembunyi atau tampil, melainkan bagian dari personal branding yang dibangun pelan-pelan bersama pembaca: jangkar gaya, konsistensi suara, sekaligus preferensi personal tentang bagaimana sebuah karya ingin dikenali.
BACA JUGA:Honda Tambah Varian Baru, Brio Satya S CVT 2026 Jadi Matic Entry-Level Paling Ramah Kantong
Dalam konteks ini, pilihan atas nama adalah hak batin penulis untuk menentukan sebagai siapa ia ingin hadir di ruang publik.
Ketika jurnalisme dipahami sebagai terapi yang dibayar, maka pertanyaannya bukan semata soal boleh atau tidak, melainkan sejauh mana sistem memberi ruang agar penulis tetap punya kegembiraan dalam bekerja dan tidak kehilangan dirinya sendiri.
Terapi yang dimaksud di sini bukan pelarian, melainkan mekanisme kerja yang membantu jurnalis mengelola paparan realitas, agar ia tidak kebal, tapi juga tidak runtuh.
Di era ekonomi atensi, tekanan sering datang dari arah yang tidak kasatmata. Algoritma mendorong kecepatan, metrik mengejar keterlibatan, dan siklus berita memendekkan jeda.
BACA JUGA:Wujud Kepedulian, Bupati Muaro Jambi Bantu Korban Kebakaran di Kumpeh Ilir
Dalam kondisi demikian, terapi berubah fungsi: bukan lagi menenangkan, melainkan menahan laju. Menulis dengan rapi, memverifikasi dengan sabar, dan menolak sensasi adalah bentuk perawatan profesional yang konkret.
Terapi selalu memerlukan dukungan ekosistem. Tanpa ruang redaksi yang memberi waktu, tanpa kebijakan yang melindungi kualitas, dan tanpa pengakuan atas kerja mental, terapi individual mudah runtuh.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



