Benarkah Air Es Dapat Membuat Perut Buncit dan Tubuh Gendut?
Benarkah Air Es Dapat Membuat Perut Buncit dan Tubuh Gendut?-ist/jambi-independent.co.id-
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID- Di tengah cuaca panas, segelas air es sering menjadi pilihan untuk melepas dahaga.
Banyak orang tua dan kerabat yang melarang minum air es dengan alasan dapat membuat perut buncit dan badan menjadi gemuk. Anggapan ini sudah beredar bertahun-tahun, bahkan ada yang meyakini bahwa air dingin akan membekukan lemak di perut sehingga menumpuk dan sulit hilang. Lalu, benarkah demikian?
Jawabannya, anggapan tersebut tergolong mitos. Para dokter spesialis gizi klinik sepakat bahwa air putih, baik dalam suhu ruangan, hangat, maupun dingin, tidak mengandung kalori. Karena tidak memiliki energi, makronutrien, maupun zat gizi lain yang dapat disimpan sebagai lemak, air es tidak dapat diubah tubuh menjadi jaringan lemak. Pernyataan serupa juga disampaikan dalam sejumlah klarifikasi pakar yang menyebut informasi tentang air es membuat perut buncit sebagai hoaks.
Klaim bahwa air es membekukan lemak di perut juga tidak sesuai dengan cara kerja tubuh. Tubuh manusia memiliki sistem pengatur suhu atau homeostasis yang menjaga suhu inti tetap sekitar 37 derajat Celsius. Air dingin yang masuk ke dalam tubuh akan segera menyesuaikan suhunya dengan suhu tubuh.
BACA JUGA:Resep Membuat Tumis Daging Sapi Cabe Ijo Pedas Gurih Nikmat Bikin Nambah Nasi!
Para ahli menyebutkan bahwa jarang ada minuman yang diminum hingga perut masih terasa dingin, sehingga tidak ada proses pembekuan lemak seperti yang dibayangkan. Menariknya, minum air dingin justru dapat membakar sedikit kalori. Ketika air dingin masuk, tubuh mengeluarkan energi untuk menghangatkannya.
Secara fisika, menghangatkan satu gelas besar air berukuran 500 mililiter dari suhu sekitar 4 derajat Celsius hingga 37 derajat Celsius membutuhkan energi sekitar 16 kilokalori. Angka ini sangat kecil, sehingga efeknya terhadap penurunan berat badan sangat tidak signifikan. Dengan kata lain, air es tidak bisa dijadikan cara diet, tetapi juga bukan penyebab kegemukan.
Lalu, mengapa mitos ini bisa bertahan? Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan mengonsumsi minuman dingin yang ditambah gula. Banyak orang minum es teh manis, es kopi susu, es boba, atau minuman bersoda sambil makan. Minuman-minuman tersebut mengandung gula dan kalori yang tinggi.
BACA JUGA: Harga Toyota Fortuner Diesel Bekas dari Generasi Awal hingga Varian Berperforma Tinggi
Satu gelas besar minuman manis dapat mengandung sekitar 20 hingga 30 gram gula, setara dengan sekitar 80 hingga 120 kalori, padahal anjuran batas konsumsi gula harian orang dewasa sekitar 50 gram atau empat sendok makan. Jadi, yang berperan meningkatkan berat badan adalah gula dan kalorinya, bukan suhu airnya.
Kesalahpahaman lain berasal dari rasa begah atau kembung yang dapat muncul pada sebagian orang setelah minum air dingin terlalu cepat. Rasa penuh tersebut bersifat sementara akibat udara atau gas yang tertelan serta perubahan di saluran cerna, dan sering disalahartikan sebagai perut yang membuncit akibat lemak. Padahal, kondisi tersebut tidak berkaitan dengan penumpukan lemak.
Lantas, apa penyebab perut buncit yang sebenarnya? dilansir dari harian.disway.id Perut buncit umumnya terjadi akibat penumpukan lemak di area perut, termasuk lemak visceral yang berada di sekitar organ dalam. Penyebabnya meliputi asupan kalori yang melebihi kebutuhan, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta lemak, porsi makan besar terutama pada malam hari, dan kurangnya aktivitas fisik. Faktor lain yang berperan antara lain kurang tidur, stres berkepanjangan, bertambahnya usia, perubahan hormon, dan faktor genetik.
BACA JUGA:7 Kebiasaan Sehat Untuk Bantu Jaga Kesehatan Organ Tubuh
Perut buncit juga perlu diwaspadai karena berkaitan dengan risiko kesehatan. Untuk orang Asia, lingkar perut di atas 90 sentimeter pada laki-laki dan di atas 80 sentimeter pada perempuan menjadi tanda obesitas sentral. Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya. Karena itu, menjaga ukuran lingkar perut bukan hanya persoalan penampilan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




