Pengamat Geopolitik Sebut Turki Berpotensi Jadi Target AS–Israel Setelah Iran
Pengamat geopolitik menyebut Turki berpotensi menjadi target tekanan Amerika Serikat dan Israel setelah Iran-Jambi-Independent-Disway
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan.
Setelah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, sejumlah analis menilai bahwa Turki berpotensi menjadi negara berikutnya yang masuk dalam radar tekanan Amerika Serikat dan Israel.
Pengamat geopolitik dari Fakultas Ekonomi Peoples' Friendship University of Russia (RUDN University), Farhad Ibragimov, menyebut kemungkinan tersebut muncul setelah pernyataan mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, yang menyoroti Turki sebagai ancaman strategis bagi keamanan Israel.
Menurut Ibragimov, Bennett secara terbuka menuduh Turki mendukung Iran serta sejumlah kelompok di Timur Tengah yang oleh Israel diklasifikasikan sebagai organisasi teroris.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip media Rusia RT, Bennett bahkan menggambarkan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai sosok yang berbahaya bagi Israel.
BACA JUGA:Kendaraan Listrik Jadi Kunci RI Kurangi Impor BBM, Ini Penjelasan PLN
Ia menyebut Erdogan sebagai “musuh yang canggih dan berbahaya yang ingin mengepung Israel”.
Bennett juga mendesak Israel dan sekutunya untuk tidak mengabaikan peran Ankara di kawasan Timur Tengah serta mulai menyusun kebijakan penahanan yang komprehensif terhadap Turki.
Menurut Ibragimov, meskipun Bennett tidak secara langsung menyebutkan langkah militer atau tekanan tertentu, retorikanya memberi sinyal bahwa Israel perlu mempertimbangkan Turki sebagai negara musuh secara resmi.
Singgung “Poros Mengerikan”
Dalam pernyataannya, Bennett juga menyinggung apa yang ia sebut sebagai “poros mengerikan” yang terdiri dari kekuatan politik Islam di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai Turki dan Qatar memperkuat jaringan politik yang berkaitan dengan Ikhwanul Muslimin, khususnya melalui aktivitas mereka di Suriah dan Gaza.
Bennett bahkan menyebut adanya kemungkinan terbentuknya poros kekuatan baru jika Turki menjalin aliansi militer-politik dengan Arab Saudi dan Pakistan.
Menurutnya, skenario tersebut dapat menciptakan pusat kekuatan regional baru dengan ambisi geopolitik yang besar di kawasan Timur Tengah.
Hubungan Turki–Israel Memburuk
Ibragimov menjelaskan bahwa ketegangan antara Turki dan Israel sebenarnya telah berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun.
Sejak Erdogan berkuasa dan memperkuat Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), kebijakan luar negeri Turki semakin dipengaruhi oleh ideologi politik Islam yang mendukung perjuangan Palestina.
Sikap ini membuat hubungan bilateral antara Turki dan Israel semakin memburuk.
Meski demikian, selama bertahun-tahun Ankara berupaya menyeimbangkan posisinya dengan berbagai kekuatan global.
BACA JUGA:Bupati Tanjab Timur Dillah Akui Setahun Kepemimpinan Belum Banyak Perubahan
Di satu sisi, Turki merupakan anggota NATO dan berusaha mempertahankan hubungan strategis dengan Israel. Namun di sisi lain, Ankara juga berupaya menunjukkan kepemimpinan di dunia Muslim.
Pendekatan ganda tersebut kerap menuai kritik dari berbagai pihak.
Negara-negara Muslim menilai Turki tidak cukup tegas terhadap Israel, sementara negara-negara Barat mengkritik retorika Ankara yang dinilai terlalu keras terhadap Israel.
Insiden Mavi Marmara
Salah satu peristiwa yang paling memengaruhi hubungan kedua negara adalah insiden kapal MV Mavi Marmara pada Mei 2010.
Kapal tersebut merupakan bagian dari misi “Armada Kebebasan Gaza” yang berusaha menembus blokade laut Israel untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.
Israel menganggap misi tersebut sebagai potensi ancaman keamanan.
Saat operasi pencegatan di perairan internasional, pasukan Israel menaiki kapal tersebut dan terjadi bentrokan yang menyebabkan sejumlah warga Turki tewas.
BACA JUGA:Senyum Kembar Abi Satya dan Abi Wara Warnai Safari Ramadan SKK Migas PetroChina di Rumah Cahaya
Peristiwa ini memicu reaksi keras dari Ankara yang menuduh Israel melanggar hukum internasional serta menuntut permintaan maaf resmi, kompensasi bagi korban, dan pencabutan blokade Gaza.
Sejak saat itu, hubungan Turki dan Israel mengalami kemerosotan signifikan yang hingga kini masih memengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



