Gentengisasi Jadi Program Baru Prabowo: Warga Perlu Tahu Plus Minus Atap Genteng vs Baja Ringan, Mana Lebih Un
Program gentengisasi yang digulirkan pemerintahan Prabowo mendorong penggunaan genteng tanah liat-Jambi-Independent-akmal
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai mendorong kembali penggunaan genteng tanah liat sebagai material atap rumah melalui program yang dikenal dengan istilah gentengisasi.
Program ini disebut-sebut menjadi bagian dari upaya penataan lingkungan dan tata kota, sekaligus mendukung sektor pariwisata agar kawasan permukiman terlihat lebih rapi, serasi, dan memiliki identitas lokal yang kuat.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan genteng tanah liat di Indonesia memang kian tergerus.
Perubahan gaya bangunan, tuntutan efisiensi, serta perkembangan material konstruksi membuat banyak rumah dan bangunan baru beralih ke atap metal, seng, maupun baja ringan.
BACA JUGA:Konflik Lahan Sawit di Desa Betung! Polres Muaro Jambi Bakal Tetapkan Tersangka
Material tersebut dinilai lebih praktis, pemasangannya cepat, bobotnya ringan, serta biaya konstruksi secara keseluruhan lebih efisien.
Tak hanya itu, tren desain rumah modern dan minimalis juga dianggap lebih selaras dengan atap non-genteng.
Akibatnya, genteng tradisional kini lebih banyak ditemukan di daerah tertentu atau pada bangunan bergaya klasik dan tradisional, sementara di kawasan perkotaan dan perumahan baru penggunaannya semakin jarang.
Lewat program gentengisasi, pemerintah ingin menghidupkan kembali penggunaan genteng tanah liat sebagai bagian dari penataan visual lingkungan.
Namun, sebelum menentukan pilihan, masyarakat perlu memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis atap, baik genteng tanah liat maupun atap logam seperti seng dan baja ringan.
BACA JUGA:Sepekan Pasca Keracunan Massal MBG di Muaro Jambi, Penyebab Masih Gelap! SOP Dapur Disorot Serius
Atap Genteng Tanah Liat
Genteng tanah liat dibuat dari tanah liat yang dibentuk lalu dibakar. Material ini sudah lama digunakan di Indonesia dan identik dengan rumah tradisional maupun bangunan bergaya klasik.
Kelebihan utama genteng tanah liat adalah umur pakainya yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai 50 hingga lebih dari 100 tahun jika kualitas material dan perawatannya baik.
Dari sisi estetika, genteng menawarkan beragam pilihan warna, bentuk, dan finishing glasir yang dapat disesuaikan dengan gaya arsitektur.
Selain itu, genteng memiliki ketahanan api yang baik, serta tidak mudah rusak akibat serangga maupun pembusukan.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Ambruk Jumat Pagi! Anjlok Rp100.000 Sekaligus, Ini Daftar Lengkap Terbarunya
Namun, genteng juga memiliki sejumlah kekurangan. Bobotnya yang berat membuat struktur bangunan harus lebih kuat, sehingga membutuhkan biaya tambahan untuk rangka dan penyangga.
Dari sisi biaya, genteng tanah liat umumnya lebih mahal dibanding banyak alternatif modern, baik dari harga material maupun ongkos pemasangan.
Di iklim lembap, permukaan genteng juga rentan ditumbuhi lumut atau ganggang, sementara warna glasir dapat memudar seiring waktu.
Atap Logam: Seng dan Baja Ringan
Atap logam mencakup berbagai material seperti baja berlapis, aluminium, seng, hingga logam premium seperti tembaga.
Jenis atap ini banyak digunakan pada bangunan modern, komersial, dan rumah tinggal dengan konsep minimalis.
Keunggulan atap logam terletak pada bobotnya yang ringan, sehingga tidak membebani struktur bangunan. Umur pakainya juga tergolong panjang, rata-rata 40 hingga 70 tahun tergantung jenis logam dan lapisannya.
Atap logam dikenal tahan terhadap cuaca ekstrem dan memiliki ketahanan angin yang baik. Selain itu, material ini dapat didaur ulang, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan jika menggunakan logam daur ulang.
Meski demikian, atap logam juga memiliki kelemahan. Biaya awal bisa cukup tinggi, terutama untuk material premium atau lapisan pelindung khusus.
BACA JUGA:IIMS 2026 Jadi Panggung New Kia Carens, MPV Modern Rp319 Jutaan
Dari sisi kenyamanan, atap logam cenderung menimbulkan suara bising saat hujan deras jika tidak dilengkapi insulasi yang memadai.
Risiko korosi juga perlu diperhatikan, terutama di wilayah pesisir. Selain itu, sifat logam yang memuai dan menyusut akibat perubahan suhu berpotensi menimbulkan pergerakan sambungan yang bisa menyebabkan kebocoran bila tidak dirancang dengan baik.
Mana yang Lebih Untung?
Dengan adanya program gentengisasi, masyarakat diharapkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami kebutuhan dan kondisi masing-masing hunian.
Genteng tanah liat unggul dalam estetika, ketahanan jangka panjang, dan karakter lokal, sementara atap logam menawarkan kepraktisan, bobot ringan, dan kemudahan pemasangan.
Pilihan terbaik pada akhirnya bergantung pada tujuan pembangunan, anggaran, desain rumah, serta kondisi lingkungan sekitar.
Program gentengisasi membuka kembali diskusi soal material atap yang bukan sekadar fungsional, tetapi juga berperan dalam wajah lingkungan dan identitas kawasan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



