Praktik Sasi oleh Perempuan Raja Ampat yang Lebih dari Menjaga Laut

Praktik Sasi oleh Perempuan Raja Ampat yang Lebih dari Menjaga Laut

Ketua Kelompok perempuan Waifuna Almina Kacili bersiap mencabut papan sasi sebagai penanda pembukaan sasi laut milik Kampung Kapatcol, Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya-ANTARA-

Untuk teripang dan lola, kedua biota laut tersebut yang boleh diambil saat penangkapan adalah teripang dan lola dengan panjang 15 cm ke atas, sementara lobster dengan berat lebih dari 6 ons.

Setelah satu hingga dua minggu berselang, Kelompok Waifuna bersama-sama dengan warga Kampung Kapatcol akan bermusyawarah untuk kembali menutup sasi.

Setelah resmi menutup sasi, hasil panen laut tersebut tidak hanya disantap bersama-sama oleh warga Kampung Kapatcol, tetapi mereka juga menjualnya.

BACA JUGA:Cek Disini Pinjaman KUR BRI 2024, dari Rp 10 Juta hingga Rp 100 Juta

BACA JUGA:Pj Wali Kota Jambi Buka Kegiatan Pembekalan bagi PNS yang Memasuki Masa Purna Bhakti

Uang hasil penjualan lalu digunakan untuk kebutuhan masyarakat, baik guna mendukung kegiatan keagamaan, sosial-kemasyarakatan, maupun tabungan pendidikan dan kesehatan bagi warganya.

Pelaksanaan dan pengelolaan sasi laut yang memberikan banyak manfaat kepada warga setempat memang terbukti nyata.

Sebagaimana disampaikan Lukas Rumetna, praktik pengelolaan sasi laut memberikan banyak manfaat untuk warga, baik dari segi ekologi maupun segi sosial-kemasyarakatan.

Dari sisi ekologi, sasi laut bermanfaat melindungi biota laut dari kepunahan akibat pemanfaatan yang berlebih atau pengambilan yang bersifat merusak.

BACA JUGA:Pengemudi Mobil Pelat TNI Palsu yang Ngaku Punya Kakak Jenderal Sudah Ditangkap

BACA JUGA:Manfaat Bengkoang untuk Perawatan Kulit Wajah Lebih Cerah 

Hal senada juga disampaikan oleh tokoh agama di Kampung Kapatcol, Yesaya Kacili.

Pendeta Yesaya mengatakan Raja Ampat memang diberkahi oleh Tuhan dengan biota laut yang melimpah.

Akan tetapi, ekosistem laut di wilayah Misool pernah mengalami kehancuran karena penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Kebanyakan para nelayan yang berasal dari luar wilayah Misool menangkap ikan dengan menggunakan bom dan potasium.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: