b9

Langit yang Tak Lagi Tenang

Langit yang Tak Lagi Tenang

Kapal feri berlayar di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin 22 Januari 2026.-ANTARA-

BMKG menetapkan status siaga, hingga awas, untuk curah hujan di beberapa kecamatan dengan peluang hujan ekstrem lebih dari 70 persen. Artinya, ancaman bukan hanya banjir dan longsor, tetapi juga gangguan terhadap produksi pangan daerah.

Cuaca ekstrem, dengan demikian memperlihatkan wajah gandanya. Di satu sisi, ia fenomena alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Di sisi lain, ia mengungkap kerentanan struktural, mulai dari tata ruang, kondisi drainase, hingga kesiapan sistem peringatan dini. Ketika hujan deras bertemu sungai yang menyempit, atau angin kencang bertemu pohon tua yang rapuh, bencana menjadi sulit dihindari.

Negara hadir

Respons pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci dalam konteks pelayanan publik. Dalam beberapa hari terakhir, langkah-langkah mitigasi dan penanganan darurat telah digerakkan.

Pemerintah daerah mengaktifkan posko siaga, membuka dapur umum, menyiapkan logistik, serta mengkaji peningkatan status bencana dari siaga menjadi tanggap darurat. Belanja Tidak Terduga disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi dan infrastruktur vital dapat segera diperbaiki.

Di tingkat provinsi, koordinasi lintas organisasi perangkat daerah diperkuat melalui komando terpadu. Informasi prakiraan cuaca BMKG diteruskan ke daerah rawan, pemetaan titik banjir dan longsor dilakukan, serta sektor pertanian mendapat perhatian khusus agar sentra pangan tetap terlindungi.

Langkah-langkah ini menunjukkan kehadiran negara dalam situasi krisis, sebuah prinsip penting dalam public service obligation.

Di satu sisi, cuaca ekstrem juga menguji konsistensi. Peringatan dini sudah tersedia, tetapi belum selalu diterjemahkan menjadi perubahan perilaku kolektif.

Sebagian warga masih beraktivitas di wilayah rawan, nelayan tetap melaut di tengah gelombang tinggi, dan kawasan bantaran sungai tetap padat hunian.

Ini bukan soal menyalahkan, melainkan refleksi bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan informasi, tetapi memerlukan pendidikan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks nasional, apa yang terjadi di NTB sejatinya cermin dari tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan bencana hidrometeorologi.

Ketahanan menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya tanggung jawab satu daerah, tetapi bagian dari agenda nasional dalam menjaga keselamatan warga dan keberlanjutan pembangunan.

Belajar berbenah

Cuaca ekstrem di NTB memberi pelajaran penting. Pertama, sistem peringatan dini harus terus diperkuat, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi kepercayaan publik. Informasi cuaca perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai panduan praktis yang relevan dengan kondisi lokal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: