Langit yang Tak Lagi Tenang
Kapal feri berlayar di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin 22 Januari 2026.-ANTARA-
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Cuaca ekstrem kian sering hadir bukan sekadar sebagai peristiwa alam, melainkan menjadi pengingat rapuhnya ruang hidup manusia di banyak tempat.
Hujan yang turun tak lagi selalu membawa kesejukan, angin yang berembus tak selalu menenangkan, dan laut yang bergelombang tinggi acap kali datang bersamaan, menguji kesiapan manusia dalam membaca tanda-tanda alam.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), cuaca tidak lagi hadir sebagai latar yang tenang bagi aktivitas warganya. Dalam beberapa hari terakhir Januari 2026, hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi datang beruntun, seperti menguji daya tahan ruang hidup dan kesiapsiagaan bersama.
Pagi hari yang seharusnya menjadi awal rutinitas berubah menjadi kecemasan. Pohon tumbang menutup jalan, rumah nelayan rusak diterjang gelombang, sungai meluap ke permukiman, dan sebagian warga terpaksa mengungsi ke masjid atau rumah kerabat.
Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Data BMKG menunjukkan NTB sedang berada pada fase puncak musim hujan dengan dinamika atmosfer yang kompleks. Bibit siklon tropis di selatan perairan NTB, aktivitas gelombang atmosfer, dan suplai udara basah memperkuat hujan dengan intensitas tinggi.
Dalam satu dasarian, curah hujan di sejumlah wilayah, bahkan menembus angka ratusan milimeter. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penjelasan mengapa banjir dan angin kencang terjadi hampir serempak di Pulau Lombok, hingga Pulau Sumbawa.
Di sinilah cuaca ekstrem menjadi isu pelayanan publik. Ia menyentuh keselamatan warga, keberlanjutan pangan, transportasi, dan ketahanan sosial.
Cuaca ekstrem bukan hanya soal apa yang terjadi di langit, tetapi juga tentang seberapa siap sistem di darat menanggung dampaknya.
Bibit siklon tropis
Cuaca ekstrem di NTB dalam pekan terakhir memperlihatkan pola yang saling terhubung. Bibit siklon tropis di Samudera Hindia selatan NTB memperkuat konvergensi angin di wilayah Indonesia bagian selatan.
Dampaknya terasa dalam bentuk hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut yang masuk kategori tinggi, hingga sangat tinggi. Sejumlah perairan, bahkan masuk zona merah pelayaran dengan tinggi gelombang mencapai empat hingga enam meter.
Di daratan, dampak itu menjelma cepat. Banjir merendam ribuan rumah di Lombok Barat dan Lombok Tengah. Di Kota Mataram, gelombang pasang merusak rumah nelayan dan memaksa puluhan keluarga mengungsi.
Angin kencang merobohkan pohon dan tiang listrik, mengganggu lalu lintas dan pasokan energi. Di Lombok Timur, empat pelajar menjadi korban tertimpa pohon tumbang. Ini sebuah pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat menyasar siapa saja, bahkan dalam perjalanan singkat menuju sekolah.
Hal yang menarik untuk dicermati, wilayah terdampak tidak hanya kawasan pesisir atau dataran rendah. Lereng Gunung Rinjani dan Tambora, yang menjadi sentra produksi pangan NTB, justru masuk dalam peta risiko tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




