Langit yang Tak Lagi Tenang
Kapal feri berlayar di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin 22 Januari 2026.-ANTARA-
Kedua, tata ruang dan infrastruktur perlu diselaraskan dengan realitas iklim. Drainase perkotaan, pengelolaan daerah aliran sungai, dan perlindungan kawasan pesisir tidak bisa ditunda. Investasi pada pencegahan sering kali lebih murah daripada biaya pemulihan pascabencana.
Ketiga, masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek mitigasi. Edukasi kebencanaan di sekolah, pelatihan kesiapsiagaan di desa, dan penguatan komunitas relawan akan membangun daya lenting sosial. Di sinilah unsur mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan dari PSO menemukan maknanya.
Akhirnya, cuaca ekstrem mengingatkan bahwa Indonesia, termasuk NTB, adalah negeri yang hidup berdampingan dengan risiko alam. Menghadapi badai bukan hanya soal bertahan hari ini, tetapi tentang membangun kebijakan dan kesadaran jangka panjang.
Ketika negara hadir, masyarakat berdaya, dan alam dipahami dengan bijak, cuaca ekstrem tidak lagi semata ancaman, melainkan ujian yang memperkuat ketangguhan bersama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




