Jika jurnalisme adalah terapi yang dibayar, maka bayaran itu seharusnya memungkinkan praktik yang sehat, cukup waktu, cukup dukungan, dan cukup keberanian untuk berkata tidak.
Jurnalisme akan tetap keras kepala pada fakta jika ia diberi ruang untuk bernapas. Terapi tidak membuatnya lembek; ia membuatnya tahan uji. Dan dalam ketahanan itulah, kepercayaan publik menemukan alasannya.
Mungkin jurnalisme memang tidak pernah menawarkan ketenangan yang utuh. Ia lebih sering memberi kegelisahan yang terkelola. Di sinilah nilainya: kegelisahan yang disaring menjadi pengetahuan, disusun menjadi tanggung jawab, dan diserahkan kembali kepada publik.
Jika terapi adalah cara manusia belajar hidup dengan realitas, maka jurnalisme bekerja pada wilayah yang sama—dengan disiplin, jarak, dan kesabaran. Ia tidak meminta dikasihani, juga tidak ingin diagungkan. Cukup diberi ruang untuk bekerja dengan sehat.
BACA JUGA:Jasa Raharja Hadir di Apel Persiapan Pengamanan Lebaran 2026 Wilayah Jawa Timur
Pada akhirnya, yang dibayar dari jurnalisme bukan sekadar waktu dan tenaga, melainkan kesediaan untuk terus belajar, tanpa bel pulang—demi satu hal yang tetap dijaga: kepercayaan. (ANTARA)