Jurnalisme adalah Terapi yang Dibayar

Senin 09-02-2026,12:06 WIB
Reporter : Risza S Bassar
Editor : Risza S Bassar

BACA JUGA:Penjualan Mobil LCGC Jeblok 30%, Menperin Angkat Bicara, Astra Ungkap Realita Pasar

Penting untuk berhenti sejenak dari romantisasi bahwa kelelahan adalah tanda pengabdian, atau bahwa luka batin adalah prasyarat profesionalisme. Jurnalisme tidak menuntut penderitaan; ia menuntut ketepatan.

Upah dan honorarium memang menandai relasi kerja yang sah, namun yang lebih menentukan adalah kompensasi simbolik: kesempatan untuk terus mempertanyakan, memperbaiki penilaian, dan menjaga integritas proses.

Di luar fungsi administratif, identitas penulis juga kerap bekerja sebagai penanda kultural.

Bagi sebagian jurnalis, nama—termasuk nama pena—bukan sekadar soal sembunyi atau tampil, melainkan bagian dari personal branding yang dibangun pelan-pelan bersama pembaca: jangkar gaya, konsistensi suara, sekaligus preferensi personal tentang bagaimana sebuah karya ingin dikenali.

BACA JUGA:Honda Tambah Varian Baru, Brio Satya S CVT 2026 Jadi Matic Entry-Level Paling Ramah Kantong

Dalam konteks ini, pilihan atas nama adalah hak batin penulis untuk menentukan sebagai siapa ia ingin hadir di ruang publik.

Ketika jurnalisme dipahami sebagai terapi yang dibayar, maka pertanyaannya bukan semata soal boleh atau tidak, melainkan sejauh mana sistem memberi ruang agar penulis tetap punya kegembiraan dalam bekerja dan tidak kehilangan dirinya sendiri.

Terapi yang dimaksud di sini bukan pelarian, melainkan mekanisme kerja yang membantu jurnalis mengelola paparan realitas, agar ia tidak kebal, tapi juga tidak runtuh.

Di era ekonomi atensi, tekanan sering datang dari arah yang tidak kasatmata. Algoritma mendorong kecepatan, metrik mengejar keterlibatan, dan siklus berita memendekkan jeda.

BACA JUGA:Wujud Kepedulian, Bupati Muaro Jambi Bantu Korban Kebakaran di Kumpeh Ilir

Dalam kondisi demikian, terapi berubah fungsi: bukan lagi menenangkan, melainkan menahan laju. Menulis dengan rapi, memverifikasi dengan sabar, dan menolak sensasi adalah bentuk perawatan profesional yang konkret.

Terapi selalu memerlukan dukungan ekosistem. Tanpa ruang redaksi yang memberi waktu, tanpa kebijakan yang melindungi kualitas, dan tanpa pengakuan atas kerja mental, terapi individual mudah runtuh.

Di sinilah tanggung jawab institusional menjadi krusial. Kewarasan bukan urusan personal semata; ia adalah prasyarat mutu publik.

Hari Pers Nasional dapat dibaca sebagai momen evaluasi, bukan perayaan semata. Bukan untuk menepuk dada, melainkan untuk menata ulang ekspektasi: apa yang diminta dari jurnalis, dan apa yang disediakan untuk menjaga kualitas kerjanya.

BACA JUGA:Dikukuhkan Jadi Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Menteri Nusron Tekankan Gotong Royong

Kategori :