Ada Tekanan Panas, Sri Mulyani Ungkap Penyebab Rupiah Melemah

Selasa 27-09-2022,10:19 WIB
Editor : Surya Elviza

JAKARTA,JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID  - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika.

Terkait hal ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati angkat bicara.

Dijelaskan Sri Mulyani bahwa penguatan USD Amerika Serikat telah memukul semua mata uang di dunia, termasuk rupiah.

Menurutnya, pelemahan itu dipicu naiknya suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang dilakukan The Federal Reserve (The Fed) beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:Hilangkan Energi Negatif di Rumah dengan 3 Cara Ini, Bikin Jiwa Langsung Tenang

BACA JUGA:Soroti Banjir di Kota Jambi, Ini Kata Anggota DPRD Provinsi Jambi Kemas Al Farabi

"Indeks USD mengalami penguatan hingga 110. Artinya, dolar menguat berarti lawan mata uang lainnya mengalami depresiasi. Makin kuat USD berarti lawannya melemah," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin 26 September 2022.

Selain itu, lawan dari mata uang lain di negara-negara berkembang juga mengalami depresiasi, menandakan bukan hanya Indonesia saja yang mengalami hal tersebut seperti dikutip dari JPNN.com

"Sebelumnya, sudah cukup mereda lalu kembali mengalami gejolak terutama pada September, Indeks saham global yang awalnya mulai pulih, juga terkoreksi lagi," ungkap Sri Mulyani.

Lebih lanjut, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi di kisaran 3 - 3,25 persen dan diproyeksikan hingga akhir tahun suku bunga The Fed akan naik mencapai 4,4 persen.

BACA JUGA:Ampuh Banget untuk Atasi Penyakit, Ini 5 Manfaat Kunyit yang Harus Diketahui

BACA JUGA:Siapa Membunuh Putri (24) - Tawaran Seratus Juta

Karena itu, akhirnya membuat terjadinya aliran modal asing keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.

Sri Mulyani mengatakan kondisi tersebut membuat nilai mata uang negara-negara berkembang kian melemah karena tertekan USD.

"Outflow dari negara-negara emerging di alami berbagai negara termasuk Indonesia, bahkan Afrika Selatan, Brasil, termasuk Tiongkok. Ini tentu akan menimbulkan tekanan terhadap sektor keuangan," tegas Sri Mulyani. *

 

Kategori :