Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS, Efek Perang Timur Tengah?
Rupiah ditutup melemah ke Rp16.872 per dolar AS dipicu eskalasi konflik Timur Tengah-ilustrasi/jambi-independent.co.id-akmal
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS.
Angka tersebut turun dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.868 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Lebanon.
Menurutnya, perang udara antara AS dan Israel terhadap Iran kini meluas. Israel disebut menyerang Lebanon, sementara Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz.
“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Jalur Energi Global Terancam
Situasi di Selat Hormuz turut memperburuk sentimen pasar. Kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan mulai menghindari jalur tersebut setelah perusahaan asuransi membatalkan pertanggungan kapal.
Dampaknya, tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak signifikan.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan akan menembak kapal yang mencoba melintas.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia diketahui melewati jalur strategis tersebut. Gangguan distribusi energi global otomatis memicu lonjakan harga komoditas dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BACA JUGA:HUT ke-70 Desa Tangkit Meriah, Wabup Muaro Jambi Ajak Warga Perkuat Gotong Royong
Data Domestik Masih Positif
Di tengah tekanan global, fundamental ekonomi domestik sebenarnya menunjukkan capaian positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Surplus tersebut memperpanjang tren positif selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kinerja ini terutama ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar 3,22 miliar dolar AS.
Meski demikian, sentimen global masih lebih dominan memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke level Rp16.870 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.848 per dolar AS.
Analis menilai selama ketegangan geopolitik belum mereda, volatilitas rupiah masih berpotensi berlanjut meski didukung fundamental domestik yang relatif solid.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



