Mengenal Jaringan Perdagangan Rempah dalam Dunia Melayu Lewat Seminar Internasional

Selasa 20-09-2022,14:18 WIB
Editor : Gita Savana

Pemateri lainnya, Dr. Pinky Saptandari dari Universitas Airlangga, dalam materi “Rempah untuk Kesehatan dalam Budaya Melayu” mengatakan bahwa rempah merupakan bagian dari kebudayaan, membawa pesan dan cerita tentang kenikmatan, kecantikan, kebugaran, dan kesehatan bagi dunia. “Rempah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari siklus hidup manusia, mulai dari kelahiran, tumbuh-kembang, dewasa, menikah, melahirkan, hingga kematian,” ujarnya. Menurut Pinky, rempah yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari, tidak hanya menjadi urusan personal, tetapi juga menjadi urusan sosial serta ekonomi. 

Lantas, apa peran rempah dalam dunia Melayu? Pinky mengatakan, rempah turut merawat, memperkuat, dan merayakan keberagaman budaya dalam hal gastronomi, kebugaran dan kesehatan, serta kecantikan dan seksualitas. “Rempah digunakan sejak lama dari berbagai bentuk, dari bubuk hingga cairan yang bisa ditemukan dalam minuman kebugaran yang berbeda-beda di tiap daerah, misal Saraba, bir pletok, wedang uwuh,” ujarnya. Rempah kemudian menjadi suatu upaya untuk merawat memori kolektif kita tentang tradisi kuliner dan budaya lokal yang pernah disinggahi.  

BACA JUGA:Rakernis Kejaksaan, Ini 4 Instruksi Jaksa Agung 

BACA JUGA:New Xpander Cross Resmi Hadir di Jambi

Peluang di Masa Depan

Diskusi dalam seminar ini juga membawa kita pada pembicaraan tentang Jalur Rempah dan peluangnya bagi masa depan. Apa yang membuat orang di masa silam saling berhubungan? Melalui Jalur Rempah, kita bisa melihat bukan hanya perdagangan rempah saja, tetapi ada pertukaran pengetahuan di sana, ada pula interaksi kultural yang terjadi sehingga membentuk satu jaringan yang sangat kuat masa itu. “Kemampuan seperti ini tentu menjadi modal bagi kita hari ini melihat bagaimana di masa lalu orang sudah mampu untuk membanun hubungan yang kat satu sama lain, sekarang dengan kemudahan teknologi, transportasi, komunikasi , dst. Harusnya justru semakin kuat,” jelas Hilmar Farid.  

Hilmar mengatakan bahwa saat ini salah satu industri yang perkembangannya paling pesat di dunia adalah industri wellness dan industri ini bertolak dari pengetahuan masyarakat tentang lingkungan yang terkait dengan kesehatan. “Indonesia dalam hal ini adalah gudangnya, industri yang tumbuh pesat ini tentu merupakan peluang bagi Indonesia untuk menempatkan diri secara strategis di dunia,” ujarnya. Pinky menambahkan, “Terakhir, kalau kita bisa memanfaatkan rempah, kita juga memajukkan perekonomian bangsa melalui UMKM.”

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh sekitar 400 peserta luring di Balairung Universitas Jambi serta 250 peserta daring. Pengisi materi terdiri dari akademisi, peneliti, budayawan, dan pegiat budaya Melayu, baik dari dalam maupun luar negeri.*

Kategori :