Gen Z Perempuan Makin Banyak Nganggur, Studi Ungkap Bukan Karena Malas
Studi terbaru mengungkap pengangguran perempuan Gen Z meningkat dalam beberapa tahun terakhir-ilustrasi/jambi-independent.co.id-akmal
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Perempuan dari generasi Z kini menghadapi tantangan baru di pasar kerja global.
Sebuah studi terbaru menunjukkan tingkat pengangguran perempuan muda meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meskipun kondisi tersebut bukan disebabkan oleh faktor kemalasan seperti yang sering diasumsikan.
Temuan tersebut diungkap dalam laporan Women in Work 2026 yang dirilis oleh perusahaan jasa profesional PwC di Inggris.
Laporan ini menunjukkan perempuan Gen Z berusia 16 hingga 24 tahun semakin sulit mendapatkan pekerjaan, terutama setelah pandemi COVID-19.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa tingkat pengangguran perempuan muda meningkat dari 3,5 persen pada 2023 menjadi 4,2 persen pada 2024.
BACA JUGA:Transisi Motor Listrik Dipacu, Bahlil Siapkan Insentif untuk Masyarakat
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya jumlah perempuan muda yang tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, serta tidak mengikuti pelatihan kerja.
Kelompok ini dikenal dengan istilah NEET (Not in Education, Employment, or Training).
Menurut peneliti, perempuan Gen Z yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan menghadapi masalah kesehatan memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk masuk kategori NEET.
Bahkan, peluang mereka menjadi NEET bisa mencapai 48 persen, atau hampir empat kali lebih besar dibandingkan rata-rata perempuan muda lainnya yang hanya sekitar 12,2 persen.
Selain faktor pendidikan dan kesehatan, perubahan teknologi juga dinilai memperlebar kesenjangan di pasar kerja.
Banyak perempuan muda dinilai belum memiliki keterampilan yang cukup untuk mengikuti perkembangan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya banyak diisi oleh perempuan.
CEO perusahaan rekrutmen global Bentley Lewis, Lewis Maleh, mengatakan perempuan Gen Z juga menghadapi keterbatasan jalur karier dibandingkan laki-laki seusianya.
BACA JUGA:Praperadilan Yaqut Ditolak Hakim! Status Tersangka Kasus Kuota Haji Rp622 Miliar Tetap Berlaku
Menurutnya, laki-laki muda yang lulus sekolah dengan nilai biasa saja masih memiliki berbagai pilihan pekerjaan, seperti di sektor konstruksi, logistik, atau pekerjaan teknis yang saat ini membutuhkan banyak tenaga kerja.
Sebaliknya, perempuan dengan tingkat pendidikan serupa cenderung masuk ke sektor ritel, perawatan, atau perhotelan.
“Sektor-sektor ini justru sedang menyusut dan memiliki peluang pengembangan karier yang terbatas,” ujar Maleh.
Ia menilai persoalan utama bukan pada kemampuan perempuan muda, melainkan pada minimnya jalur karier yang tersedia bagi mereka.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Melonjak Tajam! Tembus Rp3.087.000 per Gram, Investor Langsung Bereaksi
Untuk meningkatkan peluang kerja, Maleh mendorong perempuan muda mulai mengembangkan keterampilan di bidang teknologi, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dan robotika.
“Pelajari cara menggunakan alat AI dengan benar. Keahlian praktis AI tidak memerlukan gelar, dan perusahaan sangat membutuhkannya,” katanya.
Selain itu, program magang dan pelatihan di sektor digital, energi hijau, serta teknologi kesehatan dinilai masih jarang diminati perempuan muda, padahal peluangnya cukup besar.
BACA JUGA:Diskon Motor Listrik Honda Menggila: Didiskon Rp24 Juta, Harga Jadi Segini
Maleh juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menunggu kesempatan kerja datang.
Menurutnya, kandidat yang berhasil menembus posisi tinggi di dunia kerja bukan selalu mereka yang memiliki nilai akademik terbaik, melainkan mereka yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, mampu beradaptasi, serta aktif membangun portofolio dan jaringan profesional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



