b9

Geopolitik Minyak Venezuela dan Ekonomi Indonesia

Geopolitik Minyak Venezuela dan Ekonomi Indonesia

Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID -  Mirip di Film Action, seorang Presiden negara berdaulat penuh ditangkap di negaranya sendiri.

Sulit untuk percaya, tapi itu sudah terjadi Nicolas Maduro ditangkap dalama serangan penuh Amerika di Caracas Ibukota Venezuela, Sabtu dini hari, 3 Januari 2026 kemarin.

Presiden Maduro sendiri ditangkap bersama sang istri oleh pasukan Delta Force Pasukan Khusus Angkatan Darat Resmi, tidak pakai proxy atau tangan orang lain.

Tentu saja, sesuai dengan motifnya, eskalasi akan penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat yang berujung pada gangguan produksi dan ekspor minyak Venezuela, sementara reaksi dunia yang lain sudah bisa diduga, banyak yang mengecam, banyak juga pura-pura tak tahu.

BACA JUGA:Pulang Kerja Tak Pernah Sampai Rumah, Perahu Tenggelam di Sungai Pengabuan: 1 Pekerja Tewas, 1 Hilang

Karena ini Amerika Serikat polisi dunia yang bertindak, terlepas salah dan benar, dunia akan lebih mementingkan urusan dalam negerinya pada negara paman Sam tersebut.

Lalu, dampaknya secara ekonomi tentu akan jauh melampaui kawasan Amerika Latin, ini yang coba saya kupas dalam tulisan ini.

Terlepas dari potensi cadangan migasnya yang berkisar 30 % cadangan dunia, Venezuela memang hanya memproduksi sekitar 800 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari, atau kurang lebih satu persen dari total pasokan minyak dunia yang berada di kisaran 100 juta barel per hari. 

Namun signifikansi Venezuela tidak terletak pada volumenya semata, melainkan pada struktur pasarnya. Sekitar 65 hingga 75 persen ekspor minyak Venezuela selama beberapa tahun terakhir diserap oleh China, sebagian besar dalam bentuk pembayaran utang energi dan kontrak jangka panjang dengan harga diskon.

BACA JUGA:Gubernur Al Haris dan Bupati Kerinci Cicipi Teh Kayu Aro di Gerai PTPN Jambi Expo 2026

Artinya, setiap gangguan pasokan Venezuela bukan sekadar mengurangi pasokan global, tetapi langsung memukul strategi ketahanan energi China.

Bagi China, minyak Venezuela berfungsi sebagai pasokan non-Timur Tengah yang relatif murah dan terikat secara finansial. Jika pasokan ini terganggu, China sebagai importir minyak terbesar dunia—dengan impor harian di atas 11 juta barel—akan dipaksa mencari substitusi dalam waktu cepat.

Masuknya China ke pasar spot untuk menutup kekurangan bahkan setengah hingga satu juta barel per hari sudah cukup untuk mengerek harga minyak global.

Pengalaman historis menunjukkan bahwa gangguan pasokan di kisaran 1 persen saja dapat mendorong harga Brent naik 5 hingga 10 dolar AS per barel, terutama dalam kondisi pasar yang sudah ketat akibat konflik Rusia–Ukraina dan ketidakpastian Timur Tengah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: