b9

Membaca Arti Tarif Nol Persen Produk Amerika ke Indonesia

Membaca Arti Tarif Nol Persen Produk Amerika ke Indonesia

Noviardi Ferzi-ist/jambi-independent.co.id-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Tanggal 15 Juli 2025 kemarin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan tarif baru dengan Indonesia. Barang dari Indonesia akan dikenai tarif 19 persen, sementara barang dari AS tidak dikenai tarif sama sekali.

Sekilas, kebijakan ini mungkin terdengar tidak adil atau bahkan merugikan Indonesia. Namun, penting untuk memahami mekanisme tarif terlebih dahulu, karena kesepakatan ini justru menyimpan potensi keuntungan signifikan dan strategis bagi Indonesia, asalkan dikelola dengan cermat dan proaktif.

Sering terjadi miskonsepsi bahwa "Indonesia" secara langsung membayar tarif impor kepada pemerintah AS. Perlu ditegaskan, tarif impor adalah pajak yang dikenakan oleh pemerintah negara pengimpor pada barang yang masuk ke wilayahnya.

Dalam konteks ini, tarif 19 persen pada barang Indonesia akan dipungut oleh pemerintah Amerika Serikat dari importir di AS (perusahaan atau individu yang membeli barang dari Indonesia).

BACA JUGA:Sah! Ini Nama-nama Pengurus DPC Perbasi Kota Jambi Periode 2025-2029

Meskipun importir AS yang membayarkan tarif ini di perbatasan, beban ekonomi dari tarif tersebut pada akhirnya akan terbagi antara eksportir Indonesia (yang mungkin perlu menurunkan harga jual untuk tetap kompetitif) dan konsumen AS (yang mungkin membayar harga lebih tinggi).

Dengan kata lain, pemerintah Indonesia tidak "membayar" tarif ini kepada pemerintah AS. Sebaliknya, tarif 0 persen pada barang Amerika Serikat berarti pemerintah Indonesia tidak akan memungut bea masuk sama sekali dari importir di Indonesia.

Dengan pemahaman ini, mari kita telaah lebih lanjut potensi implikasi positif bagi Indonesia.

Hubungan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat sangat dinamis, melibatkan beragam jenis barang dan komoditas.

BACA JUGA:Karhutla di Kabupaten Tebo Meningkat, 5 Titik Terpantau

Indonesia memiliki surplus perdagangan yang signifikan dengan Amerika Serikat, artinya kita lebih banyak menjual daripada membeli.

Komoditas ekspor utama kita meliputi produk manufaktur seperti pakaian jadi, alas kaki, furnitur, serta peralatan listrik dan elektronik.

Selain itu, sektor pertanian dan perkebunan juga menjadi andalan dengan ekspor minyak kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao. Tak ketinggalan, produk perikanan seperti udang beku juga menjadi primadona.

Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor berbagai komoditas penting dari Amerika Serikat. Sebagian besar adalah produk pertanian seperti gandum, kedelai, dan jagung, yang krusial untuk kebutuhan pangan dan industri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: