bank jambi terbaru

Karhutla di Kumpeh Belum Padam, Ini Kendala yang Dihadapi

Karhutla di Kumpeh Belum Padam, Ini Kendala yang Dihadapi

Gubernur Jambi Al Haris saat turun ke lokasi karhutla di Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi.-ist/jambi-independent.co.id-

MUARO JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Gedong Karya, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten MUARO JAMBI, menghadapi sejumlah kendala.

Sumber air sulit ditemukan, asap pekat menghambat pemadaman dari udara, sementara angin kencang membuat api berpotensi meluas.

Kondisi tersebut terlihat saat Gubernur Jambi Al Haris bersama Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin dan Manggala Agni meninjau langsung lokasi kebakaran yang melanda perkebunan kelapa sawit milik masyarakat, Minggu siang 18 Oktober 2026.

Di lokasi, petugas gabungan bersama warga dan sejumlah pemilik kebun masih berjibaku memadamkan api. Mereka berupaya mencegah kobaran merambat ke area perkebunan dan lahan di sekitarnya.

BACA JUGA:ISPU Muaro Jambi Tembus 228, Kualitas Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Al Haris mengungkapkan, salah satu persoalan utama yang dihadapi petugas adalah terbatasnya sumber air. Bahkan, pipa yang digunakan untuk mengalirkan air kerap mengalami gangguan akibat lumpur.

“Seperti yang kita lihat, pertama, tidak ada air atau air sangat sulit didapat. Kemudian, pipa yang kita gunakan untuk mengalirkan air bisa mati mendadak karena berlumpur,” jelas Al Haris.

Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan penanganan ekstra. Petugas harus bekerja di tengah keterbatasan sarana sekaligus menghadapi kondisi lapangan yang tidak mudah.

Selain persoalan air, upaya pemadaman melalui udara menggunakan metode *water bombing* juga belum dapat dilakukan secara optimal. Menurut Al Haris, asap yang pekat menjadi salah satu kendala dalam menjangkau titik kebakaran.

BACA JUGA:Lemari Kayu Berbau Apek? Periksa 6 Hal Ini Sebelum Jamur Merusak Furnitur

Akses menuju lokasi api pun tidak mudah. Petugas dan masyarakat harus menghadapi medan yang menyulitkan pergerakan saat berupaya memadamkan kebakaran.

“Yang kedua, water bombing tidak bisa ke lokasi karena asap pekat. Kemudian, sulitnya akses bagi petugas dan masyarakat untuk menuju lokasi membantu memadamkan api,” sambungnya.

Hambatan tersebut membuat penanganan di darat tetap menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan kebakaran.

Untuk menghambat penyebaran api, dua alat berat telah bekerja selama beberapa hari melakukan penyekatan di sekitar area kebakaran.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait