Data teknis mengenai eco enzyme rumah tangga masih minim. Informasi yang beredar umumnya tidak mencantumkan tingkat keasaman atau pH, data keamanan mikroba, kecocokan dengan berbagai permukaan,
maupun perbandingan efektivitasnya dengan produk pembersih komersial. Kriteria kapan satu batch fermentasi harus dibuang juga tidak dirumuskan secara baku.
Ada sejumlah risiko dan efek samping. Kontak dengan cairan yang belum terfermentasi atau menghirup baunya yang kuat dapat mengiritasi kulit, hidung, atau saluran napas, terutama pada orang yang sensitif.
Eco enzyme tidak terbukti membunuh bakteri atau virus penyebab penyakit, sehingga tidak dapat menggantikan disinfektan untuk standar sanitasi.
Penggunaan berlebihan cairan yang bersifat asam juga dapat merugikan lingkungan.
Kebersihan yang buruk atau wadah yang tidak tertutup rapat dapat menggagalkan fermentasi dan menghasilkan jamur atau cairan yang berbahaya.
Hasil fermentasi yang menunjukkan tanda gagal, misalnya berjamur, sebaiknya tidak dipakai.
Eco enzyme tidak boleh dipakai untuk makanan atau kebersihan diri, dan tidak boleh diperlakukan sebagai disinfektan medis atau sanitasi.
Orang dengan kulit sensitif atau gangguan pernapasan disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum memakainya.
Bila muncul iritasi, gatal, atau sesak napas setelah memakai eco enzyme, pemakaian perlu dihentikan dan pertolongan medis dicari. Pemakaian sebaiknya tidak berlebihan.
Ringkasnya, eco enzyme adalah cairan fermentasi limbah organik dengan banyak klaim manfaat yang sebagian besar belum didukung bukti ilmiah yang kuat, dan memiliki risiko iritasi serta kegagalan fermentasi bila dibuat atau dipakai dengan tidak tepat.
BACA JUGA:OnePlus Turbo 6Vs Rilis dengan Baterai 9.000 mAh yang Bisa Jadi Powerbank