BACA JUGA:OJK Provinsi Jambi Gelar Jambi Financial Fest, Dorong Inklusi Keuangan Jambi Capai Target Nasional
Ketika Aryanto berada di rumah, pengasuhan anak dapat dilakukan bersama. Namun, keadaan berbeda ketika ia mendapat penugasan pemadaman yang mengharuskannya meninggalkan keluarga dalam waktu lama.
Bagi Martina, persoalan terberat bukan semata-mata merindukan suami. Ia kehilangan pasangan untuk berbagi tanggung jawab dalam mendidik anak, menghadapi persoalan sehari-hari, dan mengambil keputusan penting bagi keluarga.
"Kalau saya sebagai istri, yang paling berat adalah kehilangan partner dalam mendidik atau membesarkan anak. Mau tidak mau, saya harus merangkap menjadi papa," ungkap Martina.
Keadaan menjadi lebih sulit ketika muncul persoalan mendesak yang membutuhkan keputusan segera. Dalam kondisi seperti itu, Martina harus menentukan sendiri tindakan yang perlu diambil, tanpa selalu dapat menunggu suaminya pulang atau berdiskusi secara langsung.
BACA JUGA:Masa Tunggu Jaecoo J5 Capai Dua Bulan, Pabrikan Pacu Produksi Lokal
Sementara itu, anak-anak merasakan ketidakhadiran ayah dengan cara yang berbeda. Mereka merindukan kesempatan bermain bersama, bertamasya, diantar ke sekolah, dan mengikuti kegiatan ibadah bersama Aryanto.
Berbagai kegiatan sederhana yang biasanya dilakukan bersama ayah menjadi sesuatu yang dinantikan ketika penugasan berlangsung panjang.
Martina berusaha menjaga hubungan anak-anak dengan ayah mereka melalui panggilan video ketika keadaan memungkinkan.
Ia juga membiarkan anak-anak bermain bersama teman di rumah serta menjalankan hobi masing-masing agar keseharian mereka tetap menyenangkan.
BACA JUGA:AHM Segarkan Tampilan Honda Genio, Hadirkan Pilihan Warna Baru Bertema 'Kalcer'
Namun, ada pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh komunikasi melalui telepon. Bagi anak yang baru memasuki sekolah, misalnya, kehadiran orang tua dalam kegiatan pertama di lingkungan belajar merupakan pengalaman tersendiri.
Martina tidak menampik bahwa ia pernah merasa sedih dengan keadaan tersebut. Namun, ia juga memahami bahwa pekerjaan suaminya memiliki tuntutan yang tidak selalu dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga.
"Sedih, tapi karena ini tugas, ya belajar ikhlas dengan cara berdamai," katanya.
Bagi Martina, berdamai dengan keadaan merupakan bagian dari upayanya menjalani kehidupan keluarga. Ia tetap membutuhkan kehadiran suami, terutama dalam mendampingi tumbuh kembang ketiga anak mereka, tetapi juga berusaha memahami tanggung jawab Aryanto sebagai petugas pemadam karhutla.
BACA JUGA:Honda Dikabarkan Siap Bangkitkan Kembali Motor Mini Legendaris