bank jambi terbaru

Dua Hari Diguyur Hujan, ISPU Kota Jambi Turun ke Angka 123

Dua Hari Diguyur Hujan, ISPU Kota Jambi Turun ke Angka 123

Ispu Kota Jambi Turun Di Angka 123 Setelah 2 Hari Diguyur Hujan.-Aria Dwi Riski -

JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Hujan yang mengguyur Kota JAMBI selama dua hari terakhir membawa angin segar di tengah persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota JAMBI kini turun ke angka 123, Senin, 26 Oktober 2026.

Meski mengalami penurunan, kualitas udara tersebut masih masuk kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif. Masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan, tetap perlu membatasi paparan udara luar.

Penurunan kualitas pencemaran udara ini menjadi perkembangan yang patut diperhatikan setelah sebelumnya Kota Jambi mengalami kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap.

Berdasarkan laporan pemantauan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, ISPU di kawasan Lapangan Kantor Wali Kota Jambi sempat mencapai angka 423 pada pukul 08.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dan menunjukkan tingginya tingkat pencemaran udara saat itu.

BACA JUGA:Wawako Diza: Kota Jambi Tak Ingin Kehilangan Gelar Juara Umum MTQ

Hujan yang turun dalam dua hari terakhir memberikan peluang bagi perbaikan kualitas udara. Namun, penurunan ISPU belum berarti persoalan kabut asap dan karhutla di Provinsi Jambi telah sepenuhnya teratasi.

Berdasarkan laporan terbaru Metro TV pada Senin, 26 Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, masih berlangsung meskipun sejumlah wilayah telah diguyur hujan.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, menyampaikan bahwa hujan mulai turun pada dasarian III Oktober 2026. Namun, intensitasnya masih berkisar ringan hingga sedang.

BMKG juga memprakirakan puncak musim hujan di wilayah Jambi terjadi pada Desember 2026. Artinya, hujan yang mulai turun pada akhir Oktober belum tentu langsung mengakhiri ancaman karhutla, terutama di kawasan yang masih mengalami kebakaran.

BACA JUGA:Aklamasi, Muhamad Yasir Terpilih Pimpin Forum LPM Kota Jambi

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kualitas udara perlu terus dipantau bersamaan dengan upaya pemadaman api di lapangan. Hujan dapat membantu membasahi permukaan lahan dan mengurangi partikel debu di udara, tetapi efektivitasnya dalam memadamkan karhutla bergantung pada intensitas, durasi, dan sebaran hujan.

Mengacu pada klasifikasi ISPU, angka 123 berada dalam kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif. Kondisi ini berarti kualitas udara masih berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi orang yang lebih rentan terhadap paparan pencemar.

Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit asma atau gangguan pernapasan lainnya.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan apabila kualitas udara kembali memburuk. Penggunaan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan juga dapat menjadi langkah perlindungan untuk mengurangi paparan partikel pencemar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: