JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Bagi Aryanto Aritonang, pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan kerap membuatnya melewatkan berbagai peristiwa penting dalam keluarga.
Ketika istrinya melahirkan anak ketiga, ia juga tidak dapat mendampingi anak sulung yang baru memasuki sekolah.
Di rumah, Martina Sari Silitonga harus menjalankan berbagai tanggung jawab pengasuhan tanpa kehadiran suaminya.
Jambi – Martina Sari Silitonga (37) menghadapi situasi yang tidak mudah ketika anak pertamanya mulai memasuki sekolah.
BACA JUGA:Cutting Sugar Jadi Tren Gaya Hidup Sehat, Ini Cara Mengurangi Gula dalam Menu Harian
Saat itu, sekolah mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari yang membutuhkan pendampingan orang tua. Ada pula pertemuan dengan orang tua murid untuk menyosialisasikan berbagai peraturan sekolah.
Pada waktu yang bersamaan, Martina harus menjalani persalinan anak ketiganya. Ia berharap suaminya, Aryanto Aritonang (39), dapat mendampingi anak sulung mereka mengikuti kegiatan sekolah.
Namun, Aryanto sedang menjalankan tugas sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Aryanto merupakan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Wirakarya Sakti (WKS), Distrik Sei Tapah, Jambi. Pekerjaannya mengharuskan ia siap menerima penugasan pemadaman, termasuk ketika harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu.
BACA JUGA:Tren Gorpcore 2026, Gaya Outdoor yang Bisa Dipakai untuk Aktivitas Sehari-hari
"Papanya tidak bisa mendampingi anak kami yang nomor satu waktu baru masuk sekolah. Ada MPLS selama tiga hari yang mengharuskan orang tua mendampingi, juga pertemuan orang tua murid. Saat itu saya bertepatan melahirkan, jadi saya benar-benar berharap papanya bisa ikut," tutur Martina.
Pengalaman tersebut masih membekas bagi Martina. Bukan hanya karena suaminya tidak dapat mendampingi kelahiran anak ketiga, tetapi juga karena pada saat yang sama anak pertama mereka sedang menjalani salah satu tahapan penting dalam kehidupannya.
Di tengah keadaan tersebut, Martina harus menghadapi kebutuhan dua anaknya sekaligus, sementara Aryanto tidak dapat mengambil alih tanggung jawab keluarga karena sedang bertugas.
Ketika Ibu Harus Menjadi Papa
Kini, Martina dan Aryanto memiliki tiga anak yang berusia tujuh tahun, tiga tahun, dan empat bulan. Dengan seorang anak yang mulai bersekolah, seorang balita, dan seorang bayi, keseharian keluarga mereka membutuhkan perhatian yang tidak sedikit.