Langkah tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam melakukan transformasi di tubuh PLN.
Dahlan menegaskan bahwa sensitivitas terhadap krisis tidak hanya berlaku di dunia bisnis.
“Ini juga berlaku dalam kepemimpinan negara,” katanya.
Ia mengingatkan, tanpa kesadaran kolektif bahwa krisis sedang terjadi, kebijakan yang diambil bisa menjadi tidak relevan dan memperburuk keadaan.
BACA JUGA:Rabu Pagi Ini Emas Antam, UBS, dan Galeri24 di PegadaianTurun Lagi
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai pengalaman Dahlan sangat berharga untuk dunia akademik.
“Transformasi di PLN bisa dikaji dengan teori manajemen. Pengalaman empiris seperti ini memperkaya ilmu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya jumlah doktor.
“Negara maju punya lebih dari 1 persen doktor. Mereka jadi motor inovasi dan daya saing,” jelasnya.
BACA JUGA:Gol Menit Akhir! Keanu Sanjaya antar Indonesia Buka Piala Asia U17 dengan Kemenangan
Senada, Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen, Ahmad Badawi Saluy, menyebut kehadiran tokoh seperti Dahlan memberi perspektif nyata.
“Ilmu manajemen pada akhirnya diuji di dunia bisnis dan pemerintahan,” katanya.
Kuliah umum ini meninggalkan satu pesan kuat: krisis tidak bisa dihadapi dengan cara biasa.
Pemimpin harus berani memberi sinyal, mengambil risiko, dan bahkan membuat keputusan yang tidak nyaman.
Karena dalam krisis, diam justru bisa menjadi awal kehancuran.*