Harga Gas Dunia Naik 45%, Krisis Geo Ekonomi Baru?

Selasa 03-03-2026,10:24 WIB
Reporter : Risza S Bassar
Editor : Risza S Bassar

Jika gangguan produksi berlangsung lebih dari beberapa hari, negara-negara pengimpor akan berebut pasokan alternatif dari Amerika, Rusia, dan Afrika.

Dalam skenario gangguan tiga hingga lima hari, harga spot LNG bisa melonjak 70–100 persen dari level normal.

“Selama ini LNG Qatar berfungsi sebagai penyangga ketika pasokan lain terganggu. Jika penyangga itu melemah, maka volatilitas harga menjadi keniscayaan,” jelas Noviardi.

Dari perspektif geoekonomi, insiden ini mempertegas bahwa konflik Teluk telah bergeser dari sekadar rivalitas militer menjadi pertarungan atas stabilitas energi global.

BACA JUGA:Vonis! Terdakwa Korupsi Dana BOP Diknas Batang Hari Dihukum 3 Tahun, Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa

Akumulasi gangguan—mulai dari penghentian LNG Qatar hingga gangguan fasilitas energi lain di kawasan—membuat kapasitas energi dunia yang terdampak mencapai skala puluhan juta ton ekuivalen minyak per tahun.

Artinya, konflik ini bukan lagi isu regional, melainkan variabel utama dalam peta ekonomi global.

Bagi Indonesia, dampaknya berpotensi terasa melalui kenaikan harga LNG global dan tekanan fiskal jika harga minyak terdorong naik di atas 80–90 dolar AS per barel.

Industri petrokimia, baja, dan manufaktur berbasis gas akan menghadapi kenaikan biaya produksi yang berisiko mendorong imported inflation.

BACA JUGA:Bantah Isu Tutup Alfamart-Indomaret demi KDMP, Lasarus: Hanya Soal Pembatasan Ekspansi, Bukan Tutup Usaha

“Dampaknya ke Indonesia tidak langsung dalam bentuk krisis, tetapi melalui kenaikan harga energi global yang bisa menekan fiskal dan memicu imported inflation,” katanya.

Noviardi menekankan bahwa dunia saat ini masih berada dalam fase pemulihan ekonomi yang rapuh.

Gangguan pada QatarEnergy berpotensi memperdalam ketidakpastian dan mempercepat pergeseran strategi energi global menuju diversifikasi pasokan serta percepatan transisi energi terbarukan.

“Dunia sedang berada dalam fase pemulihan rapuh. Gangguan seperti ini bisa menjadi katalis krisis energi jilid baru jika eskalasi berlanjut,” tutupnya.

Kategori :