Harga Gas Dunia Naik 45%, Krisis Geo Ekonomi Baru?
Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Perang itu mahal, ilmu ekonomi menelaahnya.
Analogi ini tepat untuk mengambarkan kondisi hari ini akibat perang di Timur Tengah, sebuah sebutan untuk wilayah di sebelah Timur laut tengah atau Mediterania.
Serangan drone yang berasal dari Iran terhadap fasilitas Qatar Energy di Ras Laffan dan Mesaieed menjadi titik balik eskalasi konflik Teluk yang berdampak langsung pada ekonomi global.
Qatar Energy, sebagai perusahaan energi milik negara sekaligus eksportir LNG terbesar di dunia, menghentikan sementara seluruh produksi LNG-nya.
BACA JUGA:Perang AS – Iran Ancam Ekonomi Dunia, Dampaknya Bisa Hantam Dapur Rumah Tangga Indonesia
Dengan kapasitas sekitar 120 juta ton per tahun atau hampir seperlima perdagangan LNG global, penghentian ini menciptakan guncangan pasokan yang signifikan.
Pasar merespons cepat. Harga gas di Eropa melalui kontrak ICE Dutch TTF melonjak sekitar 40–45 persen dalam sehari, sementara indeks LNG Asia (JKM) juga naik tajam.
Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai lonjakan ini bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan refleksi dari kepanikan struktural pasar energi global.
“Ketika seperlima pasokan LNG dunia berhenti dalam hitungan jam, pasar tidak lagi bereaksi rasional, tetapi defensif. Inilah yang mendorong lonjakan harga hingga 45 persen dalam sehari,” ujarnya.
BACA JUGA:Truk Colt Diesel Ngamuk Pagi-Pagi! Seruduk 3 Motor, Warung Sayur dan Rumah Warga Hancur
Menurut Noviardi, Ras Laffan merupakan kompleks LNG terbesar di dunia, sementara Mesaieed berfungsi sebagai pusat pemrosesan gas dan minyak hilir yang terintegrasi dengan jalur ekspor melalui Teluk.
Ketika dua simpul strategis ini terganggu, bukan hanya produksi yang terhenti, tetapi juga arteri logistik energi global ikut tersendat.
“Serangan ke fasilitas QatarEnergy bukan sekadar gangguan teknis, melainkan pesan geopolitik. Energi kini menjadi instrumen tekanan dalam rivalitas kawasan Teluk,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini LNG Qatar berperan sebagai “buffer” bagi Eropa dan Asia Timur ketika pasokan lain, termasuk dari Rusia, terganggu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



