Namun di sisi moneter, tekanan inflasi dan pelemahan rupiah dapat memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25–100 basis poin untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
“Kenaikan suku bunga memang perlu untuk meredam inflasi inti di kisaran 3,5–4,5 persen, tetapi konsekuensinya adalah kredit melambat dan daya beli masyarakat makin tertekan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, kelompok rumah tangga miskin dan rentan akan menjadi pihak paling terdampak. Daya beli mereka bisa turun 5–12 persen akibat kombinasi kenaikan harga energi dan pangan.
Secara global, Noviardi memperkirakan peluang ekonomi yang hilang akibat konflik berkepanjangan bisa mencapai US$2–3 triliun.
BACA JUGA:Ironi di Depan Kantor DLH! Sampah Menggunung Bau Menyengat di Kawasan Perkantoran Pemkab Muaro Jambi
Negara-negara pengimpor energi seperti China, India, dan Indonesia akan menghadapi tekanan defisit perdagangan yang melebar.
“Iran sendiri bisa kehilangan pendapatan minyak ratusan miliar dolar dan menghadapi inflasi ekstrem, sementara negara di kawasan konflik juga berisiko mengalami kontraksi ekonomi kuartalan,” jelasnya.
Noviardi menegaskan bahwa stabilitas geopolitik menjadi faktor kunci menjaga pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.
“Ekonomi dunia saat ini belum sepenuhnya pulih dari tekanan pandemi dan perlambatan global. Konflik energi skala besar akan menjadi ujian serius bagi stabilitas fiskal, moneter, dan sosial di banyak negara, termasuk Indonesia,” pungkasnya.