Indonesia Tidak Kaya Sumber Daya Alam ?

Rabu 21-01-2026,12:06 WIB
Reporter : Risza S Bassar
Editor : Risza S Bassar

Angka ini menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sumber daya alam, terutama minyak, yang membuat perekonomian Saudi sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.

Meskipun demikian, pemerintah Arab Saudi sedang mendorong transformasi struktural melalui program Vision 2030, dengan memperluas peran sektor non-migas seperti pariwisata, teknologi, dan jasa keuangan, agar ekonomi menjadi lebih beragam dan berkelanjutan.

Rusia juga menunjukkan karakter ekonomi yang sangat bergantung pada sumber daya alam, khususnya minyak, gas, dan logam. 

Struktur ekonominya menunjukkan bahwa sektor industri (termasuk energi dan manufaktur berbasis sumber daya) menyumbang sekitar 40 persen dari PDB, sementara sektor jasa menyumbang lebih dari 50 persen.

BACA JUGA:Al Haris Bongkar Masterplan Jambi Islamic Center: Ada Miniatur Ka’bah, Manasik hingga Pendidikan Non-Kampus

Ketergantungan ini membuat kinerja ekonomi Rusia sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar komoditas global dan faktor geopolitik, seperti sanksi internasional dan perubahan harga energi.

Australia memberikan perbandingan menarik bagi Indonesia sebagai negara eksportir komoditas utama. Industri pertambangan Australia menyumbang sekitar 13,7 persen dari PDB nasional, lebih tinggi dibandingkan kontribusi sektor minerba di Indonesia.

Ekspor komoditas tambang seperti batu bara, bijih besi, dan emas menjadi sumber pendapatan utama negara, dengan nilai ekspor mencapai 2,4 triliun dolar Australia dalam satu dekade terakhir. 

Selain itu, sektor pertambangan Australia juga memberikan dampak luas melalui multiplier effect, yaitu peningkatan pendapatan dan belanja yang menyebar ke sektor lain seperti kesejahteraan, kesehatan, pertahanan, pendidikan, dan layanan publik. 

BACA JUGA:Simak! Ini Daftar Nama Pejabat Eselon II hingga IV Pemprov Jambi yang Dilantik Sekda Provinsi Jambi

Dalam satu dekade terakhir, kontribusi sektor pertambangan diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi Australia sebesar 21 persen, menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian.

Sebaliknya, negara-negara industri maju seperti Jepang dan Jerman menunjukkan model ekonomi yang sangat berbeda. Kontribusi langsung sektor pertambangan terhadap PDB di kedua negara ini sangat kecil, umumnya di bawah 1–2 persen.

Perekonomian mereka didominasi oleh sektor jasa (lebih dari 70 persen dari PDB) dan manufaktur berteknologi tinggi, bukan eksploitasi sumber daya alam domestik. 

Namun, kecilnya peran pertambangan domestik tidak berarti mereka lepas dari sumber daya alam. Justru sebaliknya, Jepang dan Jerman sangat bergantung pada impor minyak, gas, dan mineral dari negara-negara produsen seperti Indonesia, Arab Saudi, Rusia, dan Australia untuk menopang industri dan kebutuhan energinya.

BACA JUGA:Heboh Guru SD Jadi Tersangka! Polres Muaro Jambi Sebut Sudah Upayakan Mediasi, Ortu Murid Minta Hukum Jalan

Dalam konteks ini, ketergantungan Indonesia terhadap sumber daya alam—sekitar 10,5 persen dari PDB—dapat dinilai signifikan namun masih moderat dibandingkan negara pengekspor energi utama. 

Kategori :