Peneliti UNJA dan BRIN Gali Rahasia Tumbuhan Obat SAD di Jambi

Jumat 24-10-2025,15:38 WIB
Reporter : Edo Adri
Editor : Edo Adri

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Tim Peneliti Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Jambi (UNJA) bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN) melaksanakan kegiatan penelitian etnobotani di pedalaman Jambi, tepatnya di Dusun Nebang Parah dan Dusun Nyogan, Desa Nyogan, Kabupaten Muaro Jambi. Jum'at 24 oktober 2025,   Kegiatan ini dilakukan guna mempertahankan kearifan lokal yang luar biasa dalam pemanfaatan   tumbuhan   hutan sebagai obat tradisional.

Penelitian yang didanai oleh FST UNJA ini dipimpin oleh Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si.,  bersama tim anggota; Ade Adriadi, S,Si., M.Si., dan Fitra Wahyuni, S.Si., M.Si., dan bekerjasama dengan Dr. Izu Andry Fijridiyanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta dibantu dua mahasiswa dari Prodi Biologi FST UNJA, Yogi Irawan dan Febriyanti Munthe. Kegiatan ini juga menghadirkan tokoh adat Suku Anak Dalam (SAD), Temenggung Pi’i, Mustofa, Rusli, Kwahid, Cimat.

Selama empat bulan, tim peneliti etnobotani berhasil mengidentifikasi 21 spesies tumbuhan obat dari 18 famili yang biasa digunakan masyarakat SAD untuk mengobati berbagai penyakit, mulai dari sakit perut, diabetes, hipertensi, hingga penyakit kulit. 

Beberapa tumbuhan obat yang ditemukan antara lain; Berumbung (Adina Minutiflora) kulitnya dimanfaatkan untuk obat sakit perut dan demam, Mampat (Cratoxylumarborescens)getahnya dimanfaatkan sebagai obat luka,

BACA JUGA:Terungkap! Polisi Blak-blakan Soal Kasus Mayat Wanita Mengapung di Bungo yang Dibunuh Pacarnya

Ketepeng (Cassia alata) daunnya dimanfaatkan sebagai obat kurap, Bulian (Eusideroxylonzwageri) buahnya digunakan untuk obat bengkak. Selain itu, masyarakat SAD memiliki aturan khusus dalam meramu obat, seperti mengambil daun dalam jumlah ganjil (3, 5, 7 helai, dan seterusnya). Cara-cara unik ini diyakini dapat meningkatkan khasiat tanaman.

Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si., menjelaskan, penelitian ini tidak hanya bertujuan mendokumentasikan, tetapi juga mendorong pemanfaatan tumbuhan obat secara berkelanjutan. “Jika pengetahuan ini hilang, kita akan kehilangan kekayaan besar untuk dunia kesehatan. Padahal, banyak tumbuhan lokal berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal modern,” ujar Prof. Revis.

Namun, tantangan besar muncul dari pewarisan pengetahuan tradisional. Dari 100 responden yang diwawancarai, sebagian besar merupakan generasi tua. Generasi muda SAD semakin sedikit yang berminat mempelajari ramuan tradisional, sementara mayoritas masyarakat masih buta huruf sehingga ilmu ini diwariskan hanya melalui cerita lisan.

Tokoh adat SAD, Temenggung Pi’i, Mustofa, Rusli, Kwahid, dan Cimat menuturkan bahwa ilmu pengobatan tradisional adalah warisan leluhur yang harus dijaga. “Kami diajarkan orang tua sejak kecil. Kalau sakit perut, kami tahu daun apa yang harus direbus. Kalau luka, kami tahu getah apa yang harus dioleskan. Tapi sekarang anak-anak muda sudah jarang mau belajar. Mereka lebih suka beli obat di warung,” ungkapnya.

BACA JUGA:UNJA Teguhkan Komitmen Menuju Zona Integritas WBK dan WBBM

Ia juga berharap penelitian ini bisa membantu melestarikan pengetahuan mereka. “Kalau ilmu ini ditulis dan disimpan, anak cucu kami bisa belajar lagi suatu hari nanti. Hutan ini tempat hidup kami, tumbuhan di dalamnya adalah apotek kami,” tambahnya dengan tegas.

Kategori :