WFH ASN Pasca Lebaran Dinilai Efektif Tekan Subsidi
Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Kebijakan pemerintah menerapkan work from home (WFH) satu hari per minggu bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pasca Idul Fitri 2026 mulai menuai sorotan dari kalangan pengamat ekonomi.
Langkah yang juga diimbau kepada sektor swasta ini dinilai sebagai strategi cepat untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah menargetkan kebijakan ini menjadi bagian dari strategi menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen, di tengah tekanan global yang masih membayangi sektor energi.
Evaluasi berkala dari Kementerian Keuangan diharapkan segera memberikan gambaran lebih konkret terkait dampak riil kebijakan tersebut terhadap fiskal negara.
BACA JUGA:WFH Berlaku Usai Lebaran 2026, ASN Cuma Kerja 4 Hari? Ini Dampak Besarnya ke BBM dan Ekonomi
Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai kebijakan tersebut secara konsep cukup rasional dalam merespons tekanan fiskal akibat fluktuasi harga energi global.
Menurutnya, pengurangan mobilitas harian melalui WFH berpotensi langsung menekan konsumsi BBM, terutama di kota-kota besar dengan tingkat komuter tinggi.
“Kalau kita lihat hitungannya, potensi penghematan itu nyata. Dengan estimasi puluhan juta liter per bulan, ini bisa menjadi bantalan fiskal jangka pendek untuk mengurangi tekanan subsidi energi,” ujarnya, Senin, 23 Maret 2026.
Ia merujuk pada pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut adanya penghematan signifikan dari sisi volume konsumsi, serta gagasan Prabowo Subianto yang memperkirakan penghematan BBM ASN mencapai 83,6 juta liter per bulan.
BACA JUGA:Tak Sampai 24 Jam! Perampok Lansia 80 Tahun di Tanjab Timur Ditangkap Saat Mau Kabur Lewat Laut
Jika dikonversi secara kasar, angka ini setara dengan penghematan sekitar Rp830 miliar per bulan, belum termasuk efisiensi listrik perkantoran.
Namun demikian, Noviardi mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak boleh dilihat semata dari sisi penghematan fiskal.
Ia menilai ada potensi trade-off terhadap produktivitas birokrasi dan kualitas layanan publik jika implementasi WFH tidak disertai sistem kontrol kinerja yang ketat.
“Masalah kita bukan hanya hemat atau tidak, tapi bagaimana menjaga output kerja tetap optimal. Jangan sampai efisiensi energi justru dibayar dengan penurunan kualitas pelayanan publik,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




