Banyak yang Salah Kaprah! Ternyata Ini Biang Kerok Insomnia yang Sering Diremehkan
Banyak orang masih salah kaprah soal insomnia-ilustrasi/jambi-independent.co.id-akmal
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Banyak orang mengira insomnia terjadi karena tubuh kurang lelah. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Justru, salah satu penyebab utama insomnia yang kerap diremehkan adalah terlalu berusaha untuk bisa tidur.
Hal itu diungkapkan oleh fitness trainer sekaligus sleep & recovery educator, Vishal Dasani. Menurutnya, tidur adalah proses biologis alami yang tidak bisa dipaksakan.
Semakin seseorang menjadikan tidur sebagai target yang harus dicapai, justru semakin sulit tubuh untuk benar-benar terlelap.
“Tidur itu bukan sesuatu yang bisa dikejar. Semakin besar usaha kita untuk tidur, otak malah semakin aktif,” kata Vishal, dikutip dari podcast Suara Berkelas, Senin (2/2/2026).
BACA JUGA:Ikan Lele vs Ikan Kembung, Mana yang Lebih Sehat untuk Menu Harian?
Sebelum membahas insomnia lebih jauh, Vishal menjelaskan bahwa tidur bukanlah kondisi pasif. Saat seseorang tertidur, tubuh sebenarnya sedang bekerja melewati beberapa tahapan tidur yang berulang sepanjang malam.
Secara umum, tidur terbagi menjadi tiga fase utama, yakni light sleep, deep sleep, dan Rapid Eye Movement (REM) sleep.
Menariknya, porsi terbesar justru berada pada fase light sleep yang mencapai sekitar 50–60 persen dari total waktu tidur.
Sementara deep sleep hanya berkisar 13–23 persen, namun memiliki peran penting dalam pemulihan fisik. Adapun REM sleep, fase di mana mimpi terjadi, berperan dalam pemulihan emosi, memori, hingga kreativitas.
BACA JUGA:Waspada! 7 Makanan Pemicu Asam Urat yang Sering Dikira Aman, Jeroan hingga Madu
“Tubuh secara alami akan mengatur proporsi tahapan tidur sesuai kebutuhan harian. Karena itu, pola tidur setiap orang tidak selalu sama tiap malam dan hal tersebut tergolong normal,” jelas Vishal.
Masalah mulai muncul ketika tidur diperlakukan layaknya performa yang harus sempurna. Banyak orang mulai merasa cemas saat tidurnya terasa tidak ideal, lalu mencoba berbagai cara agar bisa tidur lebih cepat dan lebih lama.
Niat awalnya memang ingin memperbaiki kualitas tidur. Namun tanpa disadari, seseorang mulai mengevaluasi setiap malamnya, merasa ada yang salah ketika sulit terlelap. Akhirnya, usaha untuk tidur justru semakin besar dan membuat tubuh makin sulit rileks.
Kesalahpahaman lain yang sering terjadi adalah anggapan bahwa tubuh yang capek otomatis siap untuk tidur. Faktanya, lelah tidak selalu berarti rileks.
BACA JUGA:Kelamaan Duduk dan Minim Aktivitas, Sedentary Lifestyle Jadi Musuh Baru Jantung Sehat
Vishal menjelaskan, banyak orang berada dalam kondisi lelah secara fisik, tetapi sistem sarafnya masih berada di mode fight or flight.
Pikiran masih aktif, emosi belum stabil, dan tubuh belum masuk ke kondisi parasimpatik yang dibutuhkan untuk tidur.
“Akibatnya, meskipun badan sudah lelah dan mata terasa mengantuk, tidur tetap sulit datang atau terasa tidak nyenyak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Vishal menuturkan bahwa insomnia sering kali bertahan bukan karena penyebab awalnya, melainkan karena kebiasaan yang terbentuk setelahnya.
Misalnya, tidur siang terlalu lama akibat kurang tidur di malam hari, atau munculnya rasa cemas setiap kali mendekati jam tidur.
Kecemasan tersebut membuat otak semakin siaga, padahal tidur justru membutuhkan kondisi yang sebaliknya. Jika pola ini berlangsung lama, insomnia akan semakin sulit diatasi dalam waktu singkat.
BACA JUGA:Stop Minder Gara-Gara Ketiak! Solusinya: B ERL GlutaShine Deodorant Spray
Alih-alih memaksa diri untuk tidur, Vishal menyarankan agar fokus pada mempersiapkan tubuh untuk tidur. Salah satu caranya adalah memberi waktu sekitar 30 menit sebelum tidur untuk menurunkan aktivitas sistem saraf atau down-regulate.
Cara menenangkan tubuh pun tidak harus sama bagi setiap orang. Ada yang merasa rileks dengan membaca buku, menonton tayangan ringan, mendengarkan podcast, atau sekadar berbincang santai. Yang terpenting, tubuh diberi sinyal bahwa waktunya berhenti beraktivitas.
“Tidur pada akhirnya adalah momen ketika tubuh tidak dituntut menjadi siapa-siapa dan tidak melakukan apa-apa. Di saat itulah proses pemulihan terjadi secara alami,” tutup Vishal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



