Marketing Politik, Pertarungan Persepsi di Era Digital

Marketing Politik, Pertarungan Persepsi di Era Digital

Pencitraan Politik di Era Digital

Perkembangan  teknologi  saat  ini memberikan  dampak  yang besar terhadap proses demokrasi politik. Pengalaman Pilpres 2014  dan 2020 menjawab  bagaimana  peran media sangat berpengaruh dalam menunjang populeritas dan membentuk keterpilihan seoarang calon.

Penggunaan media sosial untuk saat ini  menjadi lahan politik yang sangat mudah  untuk  diakses  oleh  semua  kalangan,  mulai  dari Pemerintah dalam menyebarluaskan  program - program   kerjanya, Politisi    dan    Partai    politik    dalam    menambah    elektabilitas    dan popularitas,  bahkan  masyarakat  sipil  pada  umumnya  menggunakan media   sosial   untuk   mengakses   informasi-informasi   yang   sedang berkembang  saat  ini.  

Platform media sosial sangat terbuka dan bisa diakses oleh siapa saja dan usia berapa saja. Media  sosial  telah   memberikan   ruang   baru   dalam studi demokrasi,  model  demokrasi  ini disebut  sebagai  demokrasi  digital yang 

didefinisikan sebagai pemanfaatan   teknologi  komunikasi digigtal guna memajukan partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi.

Keterbukaan media sosial memberikan peluang yang sangat besar bagi semua orang untuk mengakses informasi, terlebih di era revolusi industri 4.0 telah merambat ke media internet yang menyediakan semua akses informasi. 

Politik digital di era revolusi industri 4.0 sering disebut “marketing & komunikasi politik”. Dimana penggunaan media sosial bukan lagi dimanfaatkan untuk kegiatan marketing barang dan jasa namun sudah mulai digunakan sebagai alat politik oleh paratai politik dan kandidat yang diusung partai politik.

Hal ini membuktikan bahwa berpolitik melalui media sosial mulai menjadi wadah bagi para politisi untuk melakukan marketing politik, komunikasi politik dengan masyarakat pemilih. Oleh karena itu dengan keterbukaan informasi dan akses melalui media haruslah dapat dimanfaatkan dengan baik oleh partai politik dan politisi untuk memberikan informasi mengenai visi, misi dan program kerja bahkan prestasi-prestasi yang pernah dilakukan sehingga masyarakat pemilih dapat menentukan pilihan sesuai dengan harapannya. 

Tantanganya, situasi dan kondisi politik di masa kecanggihan dunia teknologi dan digital, setiap politisi dapat menjadi komunikator yang aktif dalam mempengaruhi hingga mendelegitimasi kepercayaan publik akan citra mereka.

Berpolitik di era digital seperti manajemen pemasaran bahwa partai politik dan politisi harus mengetahui perilaku pasar. Manajemen pasar yakni bahwa partai politik harus memahami tuntutan serta perilaku pasar. Sehingga partai politik harus mampu menerapkan customizing politics atau mampu sesuaikan dan adaptasi dengan permintaan pasar.

Memenuhi sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Parpol dan politisi harus tahu tuntutan dan perilaku pasar. Menerapkan customizing politics, melayani apa yang diinginkan konstituen

Era digital membuat masyarakat berpengaruh kuat dalam keputusan partai dan politisi. Publik dapat lebih aktif dalam berkomunikasi dengan partai politik dan politisi. Bahwa publik dapat menjadi komunikator yang berpengaruh dalam keputusan politik adalah sebuah keniscayaan bahkan realitas politik persepsi hari ini. Kini publik dapat secara aktif mendukung namun juga mampu membully bahkan mampu mendelegitimasi suatu partai dan politisinya.****Peneliti LKPR****

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: