serta benjolan di sekitar ketiak. Perlu dicatat, tidak semua benjolan merupakan kanker, namun setiap perubahan tetap perlu diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Kedua, SADANIS atau pemeriksaan payudara klinis. Pemeriksaan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, seperti dokter atau bidan, di fasilitas kesehatan.
Melalui program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah menyasar skrining kanker payudara bagi perempuan berusia 30 hingga 69 tahun.
Jika hasil SADANIS menunjukkan kelainan, pasien akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan. Pedoman Kemenkes sebelumnya menyarankan SADANIS dilakukan secara berkala,
dan ketika menemukan perubahan saat SADARI, seseorang dianjurkan segera menjalani SADANIS.
Ketiga, mamografi. Mamografi merupakan pemeriksaan pencitraan dengan sinar-X yang menjadi modalitas utama skrining kanker payudara karena dapat mendeteksi perubahan pada jaringan payudara sebelum teraba oleh tangan.
Pemeriksaan ini umumnya dianjurkan mulai usia 40 tahun, dan untuk perempuan di bawah 40 tahun, USG payudara sering menjadi pilihan karena jaringan payudaranya lebih padat.
Perempuan dengan riwayat keluarga kanker payudara disarankan memulai skrining lebih awal sesuai petunjuk dokter.
Akses mamografi di Indonesia masih terbatas. Dari sekitar 3.000 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 200 yang memiliki alat mamografi.
Karena itu, SADARI dan SADANIS tetap menjadi langkah awal yang penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas dengan alat tersebut.
Pemerintah juga mendorong skrining gratis di puskesmas untuk memperluas jangkauan deteksi dini.
Selain pemeriksaan, pengenalan faktor risiko turut membantu kewaspadaan. Beberapa faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko antara lain riwayat kanker payudara dalam keluarga, mutasi gen tertentu,
BACA JUGA:Ini Dia Spesifikasi HP Vivo V80 FE
haid pertama pada usia sangat muda, menopause pada usia lanjut, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta konsumsi alkohol.