JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID- Kanker payudara merupakan kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak pada perempuan di Indonesia.
Data GLOBOCAN 2022 mencatat lebih dari 66 ribu kasus baru kanker payudara per tahun di Indonesia. Persoalannya, banyak kasus baru ditemukan ketika sudah memasuki stadium lanjut sehingga penanganannya lebih sulit dan biayanya lebih besar.
Kementerian Kesehatan menetapkan target agar 60 persen kasus kanker payudara ditemukan pada stadium awal, tetapi capaian deteksi dini baru mencapai 16,19 persen per 30 September 2026, setelah pada 2025 hanya sekitar 10 persen.
Deteksi dini menjadi kunci karena kanker yang ditemukan pada stadium awal umumnya memiliki pilihan pengobatan yang lebih luas dan peluang kesembuhan yang lebih besar.
BACA JUGA:Aman Hingga Januari 2027, Stok Blanko KTP-el di Bungo Mencapai 8.500 Keping
Terdapat tiga lapis deteksi dini yang saling melengkapi, yaitu periksa payudara sendiri atau SADARI, pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS, dan mamografi. Berikut penjelasan masing-masing cara tersebut.
Pertama, SADARI atau periksa payudara sendiri. Pemeriksaan ini disarankan dilakukan setiap bulan sejak usia 20 tahun. Waktu terbaik adalah pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid,
saat payudara tidak terlalu tegang atau nyeri. Bagi perempuan yang sudah menopause, SADARI dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan.
Kemenkes mengingatkan bahwa perempuan di bawah 30 tahun juga dapat terkena kanker payudara, sehingga SADARI tetap penting bagi mereka yang belum masuk kelompok sasaran skrining pemerintah.
BACA JUGA:Banpres Tebo Rp10 M, BPBD Masih Tunggu Petunjuk Penggunaan dari Pusat
Cara melakukan SADARI terdiri atas beberapa tahap. Mulailah dengan berdiri di depan cermin dan amati bentuk, ukuran, serta warna kulit payudara dengan tangan di sisi tubuh,
kemudian dengan tangan diangkat ke atas kepala. Selanjutnya, raba payudara dengan tiga jari tengah menggunakan gerakan melingkar dari tepi hingga ke arah puting,
mencakup seluruh area payudara hingga ke ketiak. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pula dalam posisi berbaring, serta dengan menekan lembut puting untuk melihat apakah ada cairan yang keluar.
Hal yang perlu diwaspadai antara lain benjolan atau penebalan yang tidak hilang, perubahan bentuk atau ukuran payudara, kulit berkerut menyerupai kulit jeruk, kemerahan, puting yang tertarik ke dalam, keluarnya cairan dari puting terutama berdarah,
BACA JUGA:SUV Listrik Hongqi E-HS9 Hadir di Indonesia dengan Perlindungan Baterai dan Bodi Baja Tangguh