MUARASABAK,JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Hal ini berpotensi membawa dampak yang tidak hanya berupa kekeringan, tetapi juga penurunan kualitas udara.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat semakin memburuk apabila diperkuat oleh fenomena El Nino yang menyebabkan curah hujan semakin berkurang di seluruh indonesia, termasuk di Kabupaten Tanjab Timur.
Kepala BMKG Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistyo mengatakan bahwa, kualitas udara pada musim kemarau secara umum memang cenderung mengalami penurunan.
Kondisi ini terjadi karena minimnya hujan yang selama ini berperan sebagai mekanisme alami untuk membersihkan atmosfer dari debu dan berbagai polutan.
BACA JUGA: Debit Sungai Batanghari Menyusut Drastis Akibat Kemarau Panjang
"Memburuknya kualitas udara dipicu oleh meningkatnya polusi yang tidak lagi tersapu hujan," ucapnya.
Situasi tersebut berpotensi semakin parah ketika El Nino menekan curah hujan lebih jauh sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan partikel serta polutan dalam jumlah besar.
Selain mewaspadai kondisi atmosfer, BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan waktu beraktivitas di luar ruangan serta menjaga kesehatan.
Ibnu menyarankan masyarakat memperbanyak minum air putih sedikitnya dua liter setiap hari, mengenakan pakaian yang nyaman, serta menghindari aktivitas fisik berat saat matahari sedang terik, terutama pada siang hari.
"Sebab suhu di Kabupaten Tanjung Jabung Timur bisa mencapai 23-31 derajat celcius," ujar Ibnu Sulistyo.
Sementara itu, Hariyanto, salah satu warga Kecamatan Geragai yang bermukim dipinggir jalan lintas Jambi-Muara Sabak ini juga menuturkan, saat ini akibat kondisi cuaca panas yang jarang turun hujan membuat debu semakin kuat terasa hingga ke dalam rumah.
"Sekarang ini debu di dalam rumah semakin banyak pas disapu. Karena cuaca panas dan jarang turun hujan," tuturnya.
Dirinya berharap, dinas kesehatan dan pihak terkait bisa memberikan sosialisasi, terutama kepada siswa disetiap sekolah untuk lebih menjaga kesehatan terhadap ancaman kualitas udara di tengah musim panas seperti ini, bisa mengimbau siswa mengenakan masker di perjalanan dan memberikan pengetahuan untuk menjaga kesehatan.
"Yang dikhawatirkan rentan terkena penyakit akibat ganguan udara karena debu ini adalah anak-anak mas. Kalau bisa ada pemberian vitamin atau sosialisasi untuk menjaga kondisi kesehatan ditengah musim panas seperti ini," pungkasnya. (*)