Puskesmas Bukan Lagi Sekadar Tempat Orang Sakit

Selasa 16-06-2026,20:42 WIB
Reporter : Risza S Bassar
Editor : Risza S Bassar

Tingkat partisipasi dalam program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan bahwa wilayah timur Indonesia masih menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan daerah lain.

Provinsi-provinsi seperti Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan mencatat tingkat partisipasi yang relatif rendah. Sebaliknya, Pulau Jawa masih mendominasi jumlah peserta program. Pola ini bukanlah fenomena baru.

Ia mencerminkan kesenjangan akses layanan kesehatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, mulai dari hambatan geografis, distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, hingga keterbatasan infrastruktur pendukung.

BACA JUGA:Diduga Disambar Petir Saat Berburu Burung, Pria di Muaro Jambi Ditemukan Meninggal Setelah Dicari Semalaman

Karena itu, keberhasilan transformasi puskesmas tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta skrining atau banyaknya program yang diluncurkan.

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana perubahan tersebut mampu menjangkau daerah-daerah yang selama ini tertinggal dan menghadirkan kualitas layanan yang relatif setara bagi seluruh warga negara.

Pada dasarnya, yang sedang berlangsung saat ini adalah upaya mengubah fungsi puskesmas secara bertahap. Dari fasilitas yang selama ini identik dengan tempat berobat ketika sakit, menjadi pusat pengelolaan kesehatan masyarakat yang lebih aktif mencegah penyakit sebelum muncul.

Perubahan itu ditempuh melalui kombinasi kebijakan nasional, perbaikan tata layanan, penguatan tenaga kesehatan, serta pemberdayaan kader di tingkat komunitas.

BACA JUGA: Drama di Seattle: Belgia Selamat dari Kekalahan Berkat Gol Bunuh Diri Mesir

Beban kesehatan Indonesia memang masih sangat besar. Hal itu tercermin dari tingginya pemanfaatan layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan melalui BPJS Kesehatan.

Di balik angka tersebut tersirat kenyataan bahwa masih terlalu banyak masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah muncul, bukan ketika risiko masih bisa dicegah.

Transformasi ini tentu tidak akan selesai dalam satu atau dua tahun. Jalannya masih panjang dan tantangannya tidak ringan.

Namun arah yang dituju mulai terlihat semakin jelas, yaitu membangun sistem kesehatan yang tidak hanya hadir untuk mengobati, tetapi juga membantu masyarakat tetap sehat sejak awal.*

Kategori :