Puskesmas Bukan Lagi Sekadar Tempat Orang Sakit

Selasa 16-06-2026,20:42 WIB
Reporter : Risza S Bassar
Editor : Risza S Bassar

Perubahan memerlukan penyesuaian organisasi, peningkatan kapasitas petugas, serta pendampingan yang berkelanjutan hingga merambah jaringan puskesmas yang lebih kecil, seperti puskesmas pembantu (pustu) dan posyandu.

Tantangan

Secara jumlah, jaringan pelayanan kesehatan primer di Indonesia sebenarnya sudah cukup luas. Lebih dari 10 ribu puskesmas tersebar di berbagai penjuru negeri, dengan rasio yang secara nasional telah melampaui standar minimal satu puskesmas di setiap kecamatan.

Namun, persoalannya kini bukan lagi semata-mata soal ketersediaan bangunan atau fasilitas fisik. Tantangan terbesar justru terletak pada kualitas dan pemerataan sumber daya manusia kesehatan.

BACA JUGA: Pemkab Muaro Jambi Sinkronkan Hasil Reses DPRD Dengan Program Prioritas Daerah

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki komposisi tenaga kesehatan yang lengkap sesuai standar. Masih terdapat kekurangan pada sejumlah profesi penting, mulai dari tenaga promosi kesehatan hingga tenaga laboratorium.

Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan puskesmas menjalankan fungsi barunya yang lebih menitikberatkan pada pencegahan penyakit, deteksi dini, dan pendampingan masyarakat.

Karena itu, penguatan tenaga kesehatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda transformasi pelayanan primer.

Pemerintah bersama berbagai mitra internasional mulai melakukan pemetaan yang lebih komprehensif terhadap kebutuhan tenaga kesehatan, mencakup aspek pendidikan, distribusi, penempatan, hingga retensi tenaga di berbagai daerah.

BACA JUGA:Warga Resah Pencurian Kabel Listrik Terus Berlangsung di Muaro Jambi, Minta Aparat Kepolisian Turun Tangan

Di luar tenaga profesional, terdapat satu elemen yang sering kali kurang mendapat perhatian, padahal memiliki peran sangat penting dalam sistem kesehatan primer Indonesia, yakni kader posyandu.

Jumlahnya mencapai lebih dari satu juta orang yang tersebar hingga tingkat desa dan lingkungan terkecil masyarakat.

Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan fasilitas kesehatan dengan warga. Ketika pemerintah ingin memperkuat pendekatan promotif dan preventif, para kader berada di garis terdepan karena paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Karena itu, pelatihan dan pendampingan kader menjadi faktor penting yang turut menentukan keberhasilan berbagai program kesehatan primer.

BACA JUGA:Simak! Ini Nama-nama Pengurus Baru PWI Provinsi Jambi, Ketum PWI Pusat Ajak Jaga Kekompakan dan Persatuan

Meski demikian, capaian nasional yang besar tidak berarti seluruh wilayah bergerak dengan kecepatan yang sama. Ketimpangan layanan kesehatan masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

Kategori :