JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Upaya pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi terus diperkuat dengan melibatkan masyarakat adat. Sebanyak 15 anggota kelompok Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dari Kabupaten Batang Hari dan Sarolangun mengikuti pelatihan pemadaman api bersama tim terpadu, Minggu (26/4).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis mengingat Orang Rimba hidup berdampingan langsung dengan kawasan hutan yang rawan terbakar, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang kian meningkat.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jambi, Ismael, mengatakan pelibatan masyarakat adat sangat penting dalam upaya mitigasi karhutla.
“Mereka dipilih karena hidup berdekatan dan bersinggungan langsung dengan lahan kehutanan yang sangat rentan terhadap kebakaran, terlebih di tengah perubahan iklim yang meningkatkan potensi karhutla,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (27/4).
Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem saat ini menghadirkan situasi yang kontras. Di satu sisi, sejumlah wilayah masih menghadapi banjir akibat curah hujan tinggi, sementara di sisi lain ancaman kebakaran hutan mulai muncul.
Dalam kondisi tersebut, kelompok rentan seperti masyarakat adat menjadi pihak yang paling terdampak. Karhutla tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam sumber kehidupan Orang Rimba, mulai dari hilangnya satwa buruan hingga tanaman buah yang menjadi penopang hidup mereka, serta memicu gangguan kesehatan.
Sementara itu, Project Officer KKI Warsi, Jauharul Maknun, menjelaskan para peserta pelatihan telah dibekali simulasi penanganan kebakaran serta pemahaman terkait penyebab terjadinya karhutla. Pelatihan ini didampingi oleh Basarnas, Manggala Agni, serta unsur TNI-Polri.
“Simulasi juga mencakup skenario penanganan darurat jika ada petugas atau warga yang mengalami cedera di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun Orang Rimba memiliki kearifan lokal dalam mengelola hutan, kondisi lahan yang semakin mudah terbakar menuntut adanya penguatan pengetahuan dan keterampilan yang lebih relevan dengan situasi saat ini.
Menurut Jauharul, kebakaran hutan sering kali berasal dari luar wilayah jelajah mereka dan merambat masuk, sehingga membuat masyarakat adat semakin rentan.
Karena itu, pelatihan ini dinilai krusial, tidak hanya untuk menjaga kelestarian ekosistem, tetapi juga melindungi hak dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Orang Rimba yang beraktivitas di dalam hutan disebut menjadi pihak pertama yang dapat mendeteksi titik api sebelum meluas, terutama di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Bukit Duabelas.
“Selain kemampuan teknis di lapangan, masyarakat adat Orang Rimba juga dilatih mengenai alur pelaporan kepada pihak berwenang,” pungkasnya.
Libatkan Orang Rimba, Pemprov Jambi Perkuat Pencegahan Karhutla
Senin 27-04-2026,18:52 WIB
Editor : Jennifer Agustia
Kategori :