Namun keunggulan ini sekaligus membuka sisi problematik struktur ekonomi Indonesia.
Di luar Jawa, sekitar 42 persen penduduk hanya menghasilkan sekitar 41–42 persen PDB nasional, dengan struktur ekonomi yang masih sangat bertumpu pada sektor primer dan ekstraktif serta nilai tambah yang relatif rendah.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan utama Indonesia bukan semata laju pertumbuhan, melainkan konsentrasi volume ekonomi.
Selama pusat-pusat industri, logistik, jasa keuangan, dan inovasi hanya bertumpu di Jawa, maka wilayah lain akan terus berfungsi sebagai hinterland ekonomi.
BACA JUGA:Harley-Davidson Perkenalkan X440T, Motor Anyar dengan Banderol Rp50 Jutaan
Pemerataan fiskal tanpa penciptaan pusat ekonomi baru hanya akan menjaga stabilitas sosial, tetapi tidak mengubah struktur ketimpangan.
Sementara itu, Jawa sendiri mulai menghadapi gejala penurunan efisiensi marjinal, tercermin dari kepadatan penduduk di atas 1.200 jiwa per kilometer persegi, tekanan infrastruktur perkotaan, serta beban sosial dan lingkungan yang terus meningkat.
Dengan demikian, besarnya PDB Pulau Jawa adalah kekuatan struktural sekaligus peringatan kebijakan.
Kekuatan karena Indonesia memiliki satu mesin ekonomi berskala global, namun peringatan karena tanpa transformasi spasial yang serius—melalui pembangunan kawasan industri, pelabuhan samudera, dan pusat logistik di luar Jawa, pertumbuhan nasional akan terus berlangsung secara agregat tetapi rapuh secara geografis.
BACA JUGA:Baterai Badak, Performa Cukup Ngebut! Redmi 14C 2026 Cocok Buat Aktivitas Produktif
Jawa terlalu besar untuk diabaikan, namun juga terlalu dominan untuk dibiarkan menjadi satu-satunya penopang ekonomi Indonesia.
* Pengamat ekonomi