Namun, perang saudara di dekade 1990an membuat Yugoslavia runtuh dan pecah menjadi negara-negara baru yang lebih kecil.
Kosovo adalah salah satu negara pecahan tersebut, bahkan termasuk salah satu yang termuda karena baru mendeklarasikan kemerdekaan pada 2008.
BACA JUGA:Di KTT Doha, Menlu RI Tegaskan Solidaritas bagi Qatar
Sayangnya, Serbia menolak mengakui kedaulatan Kosovo dan tetap menganggapnya sebagai bagian dari wilayahnya, Ketegangan Serbia dan Kosovo berakar sejak era Yugoslavia.
Serbia mayoritas dihuni etnis Serb beragama Kristen, sedangkan Kosovo mayoritas penduduknya adalah etnis Albania beragama Islam.
Saat perang saudara berkecamuk, militer Yugoslavia yang didominasi etnis Serb melancarkan serangan brutal ke Kosovo, menimbulkan banyak korban jiwa dan gelombang pengungsian.
Kondisi tersebut memicu intervensi NATO, yang melancarkan serangan udara ke fasilitas pemerintahan Serbia hingga memaksa pasukan Yugoslavia mundur.
BACA JUGA:Obesitas Anak Semakin Mengkhawatirkan, Kemenkes Upayakan Sugar Tax
Meski begitu, Serbia hingga kini tetap bersikeras mengklaim Kosovo sebagai wilayahnya, sehingga hubungan diplomatik keduanya tak kunjung terjalin.
Korea Utara dan Korea Selatan
Semenanjung Korea di Asia Timur terbagi menjadi dua negara, Korea Utara dan Korea Selatan.
Korea Utara adalah negara komunis dengan sistem pemerintahan tertutup, sedangkan Korea Selatan menganut demokrasi dengan kehidupan sosial-politik yang lebih terbuka serta kondisi ekonomi yang jauh lebih maju.
Kedua negara pernah terlibat Perang Korea pada 1950–1953. Walau perang telah berakhir puluhan tahun lalu, hubungan mereka tetap membara.
Baik Korea Utara maupun Korea Selatan sama-sama mengklaim diri sebagai satu-satunya negara sah di Semenanjung Korea.
Perbatasan antar keduanya dijaga ketat dengan barikade militer dan tidak bisa dilewati sembarangan. Wajib militer pun diterapkan di kedua negara.