Menyelamatkan Pelajar dari Jerat Judi Online
Jessica Trinanda, S.Pd., M.pd.T, dosen Prodi Animasi Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Sumatera Barat.-ist/jambi independent-
Perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pula ancaman baru yang semakin mengkhawatirkan, salah satunya adalah maraknya judi online di kalangan pelajar. Fenomena ini tidak lagi hanya menyasar orang dewasa, tetapi telah masuk ke lingkungan sekolah dan memengaruhi remaja usia SMA.
Beberapa waktu lalu, penulis bersama tim melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMAS PGRI 4 Padang dalam bentuk sosialisasi bahaya judi online bagi pelajar. Kegiatan tersebut membuka mata bahwa persoalan judi online bukan lagi isu yang jauh dari dunia pendidikan. Sebaliknya, ia sudah berada sangat dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari.
Banyak pelajar mengenal judi online melalui media sosial, iklan gim, grup pertemanan, hingga influencer internet. Modus yang digunakan pun semakin halus. Judi online sering dikemas menyerupai permainan biasa dengan tampilan menarik dan iming-iming keuntungan instan. Tidak sedikit remaja yang awalnya hanya “coba-coba”, tetapi akhirnya terjebak dalam kebiasaan yang sulit dihentikan.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian pelajar belum memahami bahwa aktivitas tersebut termasuk tindakan ilegal dan berbahaya. Mereka menganggapnya sebagai hiburan atau cara cepat mendapatkan uang tambahan. Padahal, di balik itu terdapat risiko besar seperti kecanduan, gangguan mental, konflik keluarga, hingga tindakan kriminal akibat kebutuhan ekonomi untuk terus bermain.
Dalam kegiatan sosialisasi yang dilakukan, banyak siswa mengaku pernah melihat bahkan mencoba situs judi online. Ada yang tertarik karena ajakan teman, ada pula yang penasaran setelah melihat promosi di internet. Fakta ini menunjukkan bahwa literasi digital di kalangan remaja masih perlu diperkuat, terutama dalam membedakan konten positif dan negatif di ruang digital.
Pelajar merupakan kelompok usia yang sedang berada pada fase pencarian jati diri. Mereka cenderung mudah terpengaruh lingkungan dan belum memiliki kontrol diri yang matang. Karena itu, pendidikan mengenai bahaya judi online perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sekali dalam bentuk seminar atau sosialisasi.
Sekolah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran siswa terhadap penggunaan teknologi secara sehat. Guru tidak hanya bertugas mengajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi pembimbing dalam membentuk karakter peserta didik. Edukasi tentang etika digital, keamanan internet, dan dampak negatif judi online sebaiknya menjadi bagian dari pembinaan siswa di sekolah.
Selain sekolah, orang tua juga memegang peranan besar. Banyak orang tua yang belum memahami aktivitas digital anak-anaknya. Pengawasan terhadap penggunaan gawai sering kali masih minim. Padahal, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak dapat menjadi benteng awal untuk mencegah remaja terjerumus dalam aktivitas negatif di internet.
Di sisi lain, pemerintah dan platform digital juga perlu mengambil langkah lebih tegas. Iklan dan promosi judi online masih mudah ditemukan di berbagai media sosial. Penindakan terhadap situs ilegal harus dibarengi dengan edukasi masif kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di sekolah menjadi salah satu upaya kecil untuk meningkatkan kesadaran pelajar mengenai bahaya judi online. Antusiasme siswa saat diskusi menunjukkan bahwa mereka sebenarnya membutuhkan ruang edukasi yang dekat dengan realitas kehidupan mereka saat ini.
Masa depan bangsa berada di tangan generasi muda. Karena itu, melindungi pelajar dari pengaruh negatif judi online bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab bersama. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana belajar dan berkembang justru berubah menjadi pintu masuk kerusakan moral dan sosial bagi anak-anak bangsa.
Jika literasi digital, pengawasan, dan pendidikan karakter dapat berjalan beriringan, maka sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi benteng yang menjaga generasi muda dari ancaman dunia digital yang semakin kompleks.
*) Penulis merupakan dosen Prodi Animasi Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Sumatera Barat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


