Orang Tua Wajib Tahu: Ini Dampak Sebenarnya Gadget pada Risiko ADHD dan Autisme
Foto ilustrasi anak bermain gadget. --ist/jambi-independent.co.id--
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Benarkah penggunaan gadget berlebihan bisa menyebabkan anak mengalami autisme atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)?
Faktanya, anggapan tersebut keliru. Namun, kebiasaan ini tetap perlu diwaspadai karena dapat memperburuk gejala gangguan perkembangan atau memunculkan perilaku yang menyerupainya.
Dokter spesialis anak subspesialis neurologi menegaskan bahwa gadget bukan faktor penyebab utama anak mengalami ADHD maupun Autisme.
Kedua kondisi tersebut merupakan gangguan neurodevelopmental yang dipengaruhi berbagai faktor, terutama genetik dan sistem kerja otak.
BACA JUGA:Jemaah Lansia Jambi Jadi Prioritas! Kemenhaj Siapkan Layanan Khusus hingga Mobil Golf di Asrama Haji
ADHD sendiri berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmiter, yaitu zat kimia di otak yang mengatur fungsi perhatian, kontrol diri, dan perilaku.
Kondisi ini membuat anak sulit fokus, mudah terdistraksi, serta cenderung impulsif. Hingga kini, penyebab pasti ADHD belum dapat dipastikan, tetapi faktor keturunan disebut memiliki peran besar.
Meski bukan penyebab, paparan gadget yang berlebihan dapat memperkuat kecenderungan perilaku tertentu.
Anak dengan ADHD, misalnya, cenderung lebih tertarik pada aktivitas digital seperti gim atau video singkat karena memberikan rangsangan cepat dan menyenangkan.
BACA JUGA:Terkuak! Polisi Kantongi Identitas ‘Bos Besar’ PETI Merangin, Dua Inisial AF dan NH Jadi Sorotan
Aktivitas tersebut memicu pelepasan dopamin secara instan—zat yang berkaitan dengan rasa senang—sehingga otak terbiasa mencari kepuasan cepat tanpa usaha besar.
Akibatnya, anak bisa kehilangan minat pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih, seperti belajar, membaca, atau berinteraksi langsung dengan orang lain.
Sementara itu, autisme merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik dan lingkungan. Dalam hal ini, gadget hanya berperan sebagai “pengubah” atau pemicu munculnya gejala yang tampak, bukan sebagai penyebab utama.
Pada anak yang tidak memiliki autisme, paparan gadget berlebihan dapat memunculkan perilaku yang mirip, seperti kurangnya interaksi sosial atau keterlambatan komunikasi.
BACA JUGA:BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter, Kabar Baik: Perairan Jambi Aman Akhir Pekan Ini
Namun, kondisi ini umumnya dapat membaik jika anak kembali mendapatkan stimulasi yang tepat, terutama melalui interaksi langsung dan aktivitas fisik.
Sebaliknya, pada anak dengan autisme, penggunaan gadget tanpa kontrol justru berisiko memperburuk kondisi. Minimnya interaksi sosial dapat membuat anak semakin menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
Para ahli menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengatur durasi penggunaan gadget serta memastikan anak tetap mendapatkan stimulasi sosial yang cukup.
Pendampingan yang tepat dinilai menjadi kunci agar perkembangan anak tetap optimal di tengah pesatnya teknologi digital. *
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


