b9

Bolehkah Titip Doa ke Jemaah Haji? Ini Penjelasan dan Etika yang Perlu Diketahui

Bolehkah Titip Doa ke Jemaah Haji? Ini Penjelasan dan Etika yang Perlu Diketahui

Foto jemaah haji berdoa di depan Kabah. --ist/jambi-independent.co.id--

JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Tradisi menitipkan doa kepada keluarga atau kerabat yang berangkat haji masih melekat kuat di tengah masyarakat.

Banyak yang berharap doa mereka ikut dipanjatkan di Tanah Suci, terutama di sekitar Ka’bah yang diyakini sebagai tempat mustajab.

Namun, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat: apakah praktik ini dibenarkan dalam ajaran Islam, dan bagaimana cara melakukannya agar tidak membebani jemaah?

Sejumlah ulama menjelaskan bahwa menitipkan doa kepada jemaah haji atau umrah pada dasarnya diperbolehkan. Hal ini memiliki landasan dalam tradisi Islam, di mana meminta didoakan oleh orang lain bukanlah hal baru.

BACA JUGA:Jemaah Haji 2026 Wajib Tahu Rahasia Haji Mabrur! Pahami Bentuk Amalan dan Keikhlasan Menjadi Kunci Utama

Bahkan, dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah meminta sahabatnya untuk mendoakan beliau.

Meski demikian, para ulama mengingatkan agar praktik ini dilakukan dengan cara yang bijak. Permintaan doa sebaiknya disampaikan secara sederhana, tanpa memberatkan jemaah yang sedang fokus menjalankan ibadah.

Kebiasaan sebagian masyarakat yang menitipkan daftar doa panjang dalam bentuk tulisan dinilai kurang tepat. Selain sulit diingat, hal tersebut juga bisa menyulitkan jemaah, apalagi jika banyak orang melakukan hal yang sama.

Karena itu, dianjurkan agar Permintaan doa cukup disampaikan secara umum, seperti memohon kesehatan, keselamatan, atau harapan untuk bisa menunaikan ibadah haji di masa mendatang.

BACA JUGA:Jemaah Haji 2026 Wajib Tahu Ini! Cara Menggapai Predikat Haji Mabrur, Berikut Penjelasan dan Kuncinya

Selain soal doa, kebiasaan lain yang turut menjadi sorotan adalah permintaan oleh-oleh. Meski terlihat sepele, permintaan barang dari banyak orang dapat menjadi beban tersendiri bagi jemaah, terutama karena keterbatasan bagasi dan padatnya rangkaian ibadah yang harus dijalani.

Para ulama pun mengimbau agar masyarakat tidak membebani jemaah dengan titipan barang. Sebaliknya, dukungan moral dan doa dinilai jauh lebih bermanfaat bagi kelancaran ibadah mereka.

Jika jemaah membawa oleh-oleh sepulang dari Tanah Suci atas inisiatif pribadi, hal itu tentu tidak menjadi masalah. Namun, memesan sejak awal justru berpotensi mengganggu kekhusyukan mereka dalam beribadah.

Pada akhirnya, esensi dari ibadah haji bukan terletak pada apa yang dibawa pulang, melainkan pada keberkahan, doa, dan perubahan diri yang menjadi lebih baik setelah menunaikan rukun Islam kelima tersebut. *

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: