b9

Fenomena Oversharing Kian Marak, Psikolog UI: Tidak Semua Hal Perlu Diposting

Fenomena Oversharing Kian Marak, Psikolog UI: Tidak Semua Hal Perlu Diposting

Psikolog UI Prof. Rose Mini Agoes Salim mengingatkan fenomena oversharing di media sosial-ilustrasi/jambi-independent.co.id-akmal

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Fenomena oversharing atau kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial semakin sering terjadi di era digital.

Di tengah budaya serba cepat dan kebutuhan untuk selalu “update”, hampir semua aktivitas terasa ingin dibagikan ke ruang publik.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan bahwa kebiasaan ini sebenarnya bisa dicegah dengan mengedepankan empati dan kontrol diri.

Psikolog yang akrab disapa Romi tersebut menegaskan tidak semua hal dalam kehidupan pribadi perlu diunggah ke media sosial.

BACA JUGA:Minyakita Dijual Rp18 Ribu di Batanghari, Bulog Jambi Bereaksi Keras: Siap Putus Mitra!

 

Menurutnya, berbagi informasi tetap dapat memberikan dampak positif apabila memiliki tujuan edukatif atau memberi manfaat bagi orang lain.

“Kalau misalnya berbaginya itu edukasi, melakukan penelitian atau ceramah, mungkin itu masih punya dampak untuk orang lain.

Tapi, kalau sudah yang pribadi, enggak usah terlalu diunggah. Itu ada hal yang seharusnya secara moral harus bisa membatasi orang untuk mengatakannya,” ujar Romi 

BACA JUGA:Masih Bingung? Ini 5 Warna Pelat Nomor Kendaraan Listrik yang Wajib Kamu Tahu

 

Ia menekankan bahwa setiap unggahan di media sosial selalu memiliki konsekuensi. Informasi yang dibagikan bisa memunculkan beragam persepsi, bahkan berpotensi memengaruhi hubungan sosial seseorang.

Tidak semua orang akan menerima atau menyetujui isi unggahan tersebut, sehingga risiko kesalahpahaman hingga konflik sosial tetap ada.

“Bisa berdampak juga pada hubungan dia dengan orang-orang tertentu. Kalau oversharing itu berdampak, bisa negatif, karena belum tentu semua menerima dan setuju dengan apa yang diberikannya,” jelasnya.

 

Romi juga menyoroti bahwa banyak orang tidak menyadari ketika sedang melakukan oversharing. Hal ini kerap dipicu oleh respons positif dari audiens, seperti komentar, perhatian, hingga notifikasi like yang memunculkan rasa senang dan dihargai.

BACA JUGA:Motor Bekas Harga Miring Jelang Lebaran? Cek Dulu Biar Gak Zonk!

 

Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang untuk terus membagikan hal-hal pribadi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

“Kenapa kalau lagi oversharing enggak sadar, karena kadang-kadang mereka mungkin dapat tanggapan menyenangkan, ada audiens yang memperhatikan dia,” kata dia.

Lebih lanjut, Romi menekankan pentingnya stimulasi moral dalam kehidupan digital. Ia menyebut adanya tujuh kebajikan utama (seven essential virtues) yang perlu diterapkan dalam keseharian, termasuk saat menggunakan media sosial.

Tiga di antaranya adalah empati, kontrol diri, dan nurani.

BACA JUGA:Usai Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Yaqut Buka Suara: ‘Saya Hanya Pikirkan Nyawa Jamaah!’

 

Empati membantu seseorang memahami bagaimana unggahannya dapat memengaruhi perasaan orang lain. Kontrol diri berfungsi menahan dorongan untuk membagikan semua hal secara impulsif.

Sementara nurani menjadi kompas moral untuk menentukan apakah sesuatu pantas atau tidak untuk dipublikasikan.

 

Di tengah derasnya arus informasi dan budaya digital yang instan, pesan tersebut menjadi pengingat sederhana namun penting:

sebelum mengunggah sesuatu, pikirkan terlebih dahulu dampaknya. Tidak semua momen harus menjadi konsumsi publik, dan menjaga batasan justru dapat melindungi diri sendiri maupun orang lain.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: