b9

Jelang Akhir Tahun, Harga Kelapa dan Pinang di Tanjab Timur Anjlok

Jelang Akhir Tahun, Harga Kelapa dan Pinang di Tanjab Timur Anjlok

Harga kelapa dan pinang di Tanjab Timur anjlok.-harpandi/jambi-independent.co.id-

MUARASABAK, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Dua komoditas andalan pertanian di Kabupaten Tanjab Timur, yakni kelapa dalam dan pinang kembali mengalami penurunan harga dalam 2 pekan terakhir. 

Kondisi ini membuat para petani semakin terjepit, terutama di tengah kenaikan sejumlah bahan kebutuhan pokok menjelang akhir tahun serta belum stabilnya biaya transportasi pasca penyesuaian harga BBM.

Sebelumnya, harga kelapa dalam mencapai sekitar Rp4.700 per kilogram. Namun kini harganya merosot menjadi sekitar Rp4.000 per kilogram. 

Sementara itu, harga pinang yang sebelumnya berada di kisaran Rp25.000 per kilogram, turun menjadi Rp22.000 per kilogram.

BACA JUGA:Nasabah Ungkap Keunggulan Easy Card BRI: Bunga Kecil, Cepat, dan Sangat Membantu!

Penurunan ini diperparah oleh melemahnya permintaan dari pabrik dan eksportir yang saat ini tengah mengurangi pembelian akibat perlambatan pasar global.

Basri, salah satu pengepul kelapa dalam di Kabupaten Tanjab Timur mengatakan, turunnya harga tidak hanya disebabkan oleh penurunan permintaan ekspor, tetapi juga berkurangnya aktivitas pengiriman menjelang akhir tahun. 

"Permintaan kelapa dalam untuk ekspor menurun. Begitu juga dengan permintaan pinang. Pengiriman juga agak tersendat menjelang natal dan tahun baru," ucapnya.

Dirinya juga menjelaskan, harga dapat berubah hingga 2 sampai 3 kali dalam sehari meski penurunannya hanya ratusan rupiah.

BACA JUGA:Waduh! Wakil Wali Kota Jadi Tersangka Kasus Penyalahgunaan Kewenangan

"Sehari harganya bisa 2 sampai 3 kali turun. Meskipun nilainya hanya ratusan rupiah, tapi dampaknya besar bagi petani," jelasnya.

Hal senada disampaikan Azri, pengepul kelapa di kabupaten ini. Ia menuturkan, selain harga jatuh, petani juga tengah menghadapi musim ‘trek’ atau masa berkurangnya produksi panen.

"Di tengah buah trek ini, nilai jual justru menurun. Sehingga petani semakin terpuruk," tuturnya.

Menurutnya, pengepul tidak memiliki banyak ruang gerak untuk menahan harga ketika permintaan dari kota dan pabrik terus melemah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait