b9

Ukuran Leher Jadi Kunci Deteksi Awal Penyakit Jantung dan Diabetes

Ukuran Leher Jadi Kunci Deteksi Awal Penyakit Jantung dan Diabetes

ukur leher,deteksi penyakit jantung?-ist-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Temuan terbaru dari para ilmuwan kembali mengubah cara kita memandang kesehatan jantung. Kini, deteksi dini penyakit jantung bisa dilakukan melalui cara yang tidak biasa: cukup dengan mengukur ukuran leher.

Para ahli kesehatan mengungkapkan bahwa lingkar leher dapat menjadi indikator penting terhadap risiko penyakit jantung dan stroke—bahkan lebih akurat dibandingkan pengukuran berat badan atau lingkar pinggang.

Dua pakar dari Kingston University, yaitu Dr. Ahmed Elbediwy (ahli biokimia) dan Dr. Nadine Wehida (ahli genetika dan mikrobiologi), menjelaskan bahwa leher yang berukuran besar bisa menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan serius.

Mulai dari tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung (fibrilasi atrium), kadar gula tinggi saat kehamilan, hingga diabetes tipe 2. “Semua kondisi ini merupakan faktor risiko utama yang dapat meningkatkan kemungkinan penyakit jantung, serangan jantung, dan gagal jantung,” ungkap keduanya dalam publikasi di The Conversation.

BACA JUGA:PSG Menggila! Enam Pemain Beda Nama Bawa Kemenangan 7-2 Atas Leverkusen di Liga Champions

BACA JUGA:Barcelona Pesta Gol, Fermin Lopez Hattrick Saat Hancurkan Olympiacos 6-1 di Liga Champions

Ukuran leher yang dianggap berisiko adalah lebih dari 43 cm (17 inci) untuk pria dan lebih dari 35,5 cm (14 inci) untuk wanita. Untuk mengukurnya, cukup lilitkan pita ukur di bagian tersempit leher, pastikan tidak terlalu ketat maupun longgar.

Kondisi ini juga erat kaitannya dengan gangguan tidur yang disebut Obstructive Sleep Apnoea (OSA), di mana seseorang berhenti bernapas sesaat saat tidur. Gangguan ini bisa menyebabkan penurunan suplai oksigen ke jantung dan meningkatkan risiko serangan jantung.

Lebih lanjut, Dr. Ahmed dan Dr. Nadine menegaskan bahwa meski ukuran leher melewati batas tersebut, itu bukan alasan untuk panik. Namun, ini adalah alarm dini yang sebaiknya tidak diabaikan. “Lingkar leher hanyalah satu bagian dari gambaran besar kesehatan tubuh, tapi merupakan indikator penting yang sering diabaikan,” ungkap keduanya dalam publikasi di The Conversation.

Penelitian sebelumnya pada tahun 2019 menunjukkan bahwa orang dengan leher tebal cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan lebih rentan terhadap fibrilasi atrium. Keduanya merupakan kondisi yang berpotensi menyebabkan pembekuan darah, stroke, dan gagal jantung.

BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Hari ini di Kota Jambi, 22 Oktober 2025

BACA JUGA:Dongfeng Nissan Rayakan 40 Tahun dengan Luncurkan Teana dan N6 Berteknologi Canggih

Tak hanya itu, ukuran leher besar juga berkaitan erat dengan diabetes tipe 2—penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan penglihatan hingga amputasi. Ditambah lagi, penderita sleep apnoea akibat leher besar juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan karena kelelahan kronis.

Jika Anda memiliki ukuran leher di atas rata-rata dan mengalami gejala seperti kelelahan ekstrem, mendengkur keras, atau sesak napas saat tidur, jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter. Ingat, semakin cepat dilakukan deteksi, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi.

Jangan ragu untuk mencari informasi lebih lengkap seputar topik ini di Discover Google menggunakan kata kunci seperti hubungan ukuran leher dan penyakit jantung” atau “early heart disease detection through neck circumference.

 

Deteksi dini penyakit jantung kini tak selalu memerlukan tes rumit. Hanya dengan mengukur lingkar leher, Anda sudah bisa mendapatkan gambaran awal kondisi kesehatan tubuh. Penelitian terbaru ini membuka peluang baru dalam dunia medis untuk pencegahan penyakit jantung secara sederhana namun efekti

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: beritasatu.com