89 Persen Siswa Sudah Vaksin  

89 Persen Siswa Sudah Vaksin   

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID, KOTA JAMBI, JAMBI - Capaian vaksinasi hingga dosis ke dua, siswa di SMPN 24 Kota Jambi cukup tinggi. Mencapai 89 persen dari total 698 siswa, dari kelas 7, 8 dan 9.

Kepala SMPN 24 Kota Jambi, Efiryati mengatakan, para siswa sudah divaksin sebelum memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM), yang sudah memasuki minggu ke dua ini. Dirinya menyebut, siswanya semangat untuk mengikuti PTM ini.

Efiryati mengatakan, capaian vaksinasi di sekolahnya ini cukup tinggi, untuk tingkatan SMP negeri dan swasta di Kota Jambi.

"Berdasarkan pendataan dari dinas, kita cukup tinggi. Bahkan, ini ada yang belum diperbaharui lagi datanya, karena wali kelas belum mengupdate ke pembina OSIS," bebernya, Senin (11/10).

Dari 11 persen siswa yang belum divaksin, menurutnya lantaran memiliki penyakit bawaan (komorbid) dan juga belum cukup usia, atau berusia di bawah 12 tahun.

"Ada siswa yang sakit jantung, alergi, asma. Itu kan memang tidak boleh divaksin. Ada surat keterangan dari dokternya," ujarnya.

Diakuinya, masih ada siswa yang tak diizinkan vaksin oleh orangtua. Pihaknya tak bisa memaksa. Namun, siswa dilakukan pembelajaran secara daring. Pada uji coba PTM ini pun, kata dia para siswa dibagi per sesi. Sehingga muatan dalam satu kelas hanya 50 persen dari jumlah siswa.

"Normalnya ada 32 siswa, kalau sekarang ya setengahnya. Yang lainnya, belajar daring. Begitu juga besoknya, akan digulir persesi," sampainya.

Dirinya berharap kasus kian melandai dan pandemi Covid-19 segera berlalu. Sehingga, siswa dapat kembali normal melakukan pembelajaran secara tatap muka.

Sebab, diakui pula oleh Pembina OSIS SMPN 24, Deta bahwa lebih efektif pembelajaran secara tatap muka, dibandingkan daring.

"Lebih jelas lagi mengajari siswa, karena kalau daring memang agak terbatas. Dengan tatap muka, siswa lebih bisa diajak berpikir dan belajar," jelasnya.

Deta mengatakan, saat daring, tak semua siswa dapat menerima pembelajaran dengan baik. Terlebih, bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.

"Kadang terkendala internet, atau handphone. Kita para guru harus memiliki pola untuk siswa agar tetap dapat menerima pembelajaran," tandasnya.

Sementara itu, pantauan di lapangan, Prokes ketat ditetapkan oleh sekolah yang berlokasi di Jalan Pendidikan, Nomor 66, Kenaliasam Bawah, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi ini. Terlihat, siswa dicek suhu dan cuci tangan sebelum memasuki ruang kelas. Pada jam yang ditentukan, mereka akan berjemur. Jam belajar pun hanya 3 jam. (tav/enn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: